Memuliakan Tamu
Amalan ini diceritakan oleh H. Aboebakar dalam Sedjarah Hidup KHA. Wahid Hasjim. Diceritakan bahwa “rumahnya dan kantornya terbuka seluas-luasnya untuk menerima tamu, dengan tidak mengikat janji terlebih dahulu..”. Maksudnya adalah sewaktu-waktu, kapan saja. Beliau memperlakukan orang-orang yang bertamu dengan lemah lembut dan baik.

Dikatakan H. Aboebakar: “Wahid Hasyim tidak saja memberikan kemerdekaan yang penuh kepada teman-temannya untuk berbicara, tetapi juga untuk berdiam di rumahnya. Keadaan ini bukan rahasia lagi, tetapi telah menjadi pepatah: “Kamar menteri Agama disebut langgar dan rumahnya di Jl. Djawa, Jakarta disebut hotel.”

Diceritakan juga, suatu malam, sesudah Kiai Wahid menjadi menteri agama, karena kekurangan tempat, ia membagi tempat tidurnya dengan seorang Kiai temannya yang datang hampir tengah malam dari jauh. Sementara istrinya, Ny. Hj. Sholichah, tidur di kamar anak-anak. Kiai Wahid tidak menyuruh tamunya menginap di hotel.

Dalam hal beliau mengahadapi tamu: “Ia selalu ramah tamah dan bermanis muka, sesuai dengan ajaran Islam. Ia lebih dulu memuji daripada mencela. Dalam memilih pembicaraan, ia memilih pokok pembicaraan yang digemari tamunya. Karena luas pahamnya baik dalam soal-soal agama, maupun dalam kecerdasan umum, maka biasanya tamu-tamunya itu tidak dapat lain daripada menaruh rasa penghargaan terhadap Wahid Hasyim.”

Kiai Wahid dengan menghormati dan memuliakan tamu itu, dan memperlakukan baik tamunya, hingga rumahnya seperti hotel bagi tamu-tamunya, adalah menjalankan amalan “min ikromid dhuyûf” dan penjamuan tamu; dan di antara para Nabi, amal penjamuan tamu adalah amalan istimewa Nabi Ibrohim Kholilulloh sebagaimana diabadikan dalam Alquran; dan kemudian dikokohkan-disempurnakan Kanjeng Nabi Muhammad.

Dan, keistimewaan disebut al-Kholil, menurut Ibnu Arobi dalam Fushûsul Hikâm, karena: “Dia diberi gelar al-Kholil. Karena faktor ini beliau melakukan amalan penjamuan tamu. Penjamuan tamu beliau jadikan sebagai kesenangan dalam hidupanya, bersama malaikat Mikail dalam pembagian rezeki. Rezeki itu adalah makanan bagi orang-orang yang diberi rezeki. Jika rezeki-rezeki bersenyawa dengan hamba yang diberi rezeki, hingga tidak tersisa selain persenyawaan itu dan makanan itu bisa menyenangkan seluruh anggota badan hamba penikmat makanan, maka pasti semua maqom Tuhan pada semua Asmâ-Nya telah bersenyawa, kemudian Dzat-Nya jalla wa `alâ tampak termanifestasikan pada Asamâ’ itu” (hlm. 84).

Nabi Muhammad, kemudian mengokohkan amalan memuliakan tamu itu sebagai bagian dari keimanan atau orang beriman adalah orang-orang yang memuliakan tamunya; dan rumah yang digunakan untuk menerima tamu dengan baik, adalah bagian dari zakatnya sebuah rumah. Dalam riwayat Imam Tirmidzi (hadits No. 1890), disebutkan soal memuliakan tamu itu begini:

“Barang siapa yang memuliakan Allah maka hendaklah ia memuliakan tamunya dengan memenuhi bagiannya.” Para sahabat bertanya: “Apa bagiannya?” Kata Nabi: “Bagiannya adalah sehari semalam. Dan batasan bertamu itu adalah 3 hari, dan setelah hari itu adalah sedekah….”

Amal Kalangan Mushlihun
Kiai Wahid termasuk orang yang melakukan amal-amal kaum mushlihun, dengan bergiat, melakukan kreativitas, dan membangun kebaikan umat Islam, dengan mobilitas yang tinggi. Aktivitasnya adalah pergerakan, penggiatan, persaudaraan, penjamuan, pengorganisasian, dan pendidikan kader di tengah umat Islam. Alquran menyebut mereka ini dengan, “Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang melakukan perbaikan (mushlihun)” (QS. Hud [11]: 117).

Dan, Kiai Wahid salah seorang yang melakukan amal kalangan mushlihun, dan karena orang-orang seperti ini pula, negeri-negeri dirahmati Allah.

Mencintai Alquran
Orang yang mencintai Alquran, mengekspresikan kecintaannya dengan cara berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya: ada yang ingin menerapkan akhlaknya, dengan cara meneladani Alquran dan Kanjeng Nabi; ada yang melanggengkan untuk menghafalkan; ada yang membiasakan mengundang muqoddaman; ada yang mutholaah tafsir-tafsir untuk bahan ceramah dan menyebarkan ilmu; ada yang menyenangi dengan keindahan apabila Alquran dilantunkan; dan masih banyak lagi.

Kiai Wahid, diceritakan H. Aboebakar, sangat menyenangi keseniaan Islam dalam berbagai cabangnya, dan dia: “Melekatkan kegemarannya terbanyak kepada kesenian Jawa-Islam, sebagai lanjutan usaha wali-wali zaman dahulu, terutama yang bersifat simbolik dan mistik mendapat tempat yang istimewa dalam perasaannnya” (Sedjarah…, hlm. 202).

Akan tetapi kegemarannya kepada seni, tidak dapat menyaingi kegemarannya atas lagu-lagu Alquran, yang menurut H. Aboebakar disebut: “Kesenian falsafah dan keseniaan suara yang tertinggi. Jika Alquran dibacakan dengan lagu-lagu yang indah, maka kita lihat Wahid Hasyim menundukkan dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan tidak jarang ia meneteskan air matanya. Ia lemas dan tidak berdaya lagi, apabila bacaan Alquran dihadapkan kepadanya.”

Karenanya, Kiai Wahid pernah berkata: “Apabila kita pada suatu masa bingung dan kehilangan akal, maka sebaiknya kita membaca Alquran dan biasanya selalu kita bertemu dengan ayat-ayat yang memberikan kita harapan lagi untuk mendapatkan petunjuk, dan biasanya terbuka kembali pintu akal dan perjuangan.”

Bahkan karena sangking cintanya kepada Alquran, yang sedang dilagukan di sebuah tempat atau acara yang beliau hadir, tidak jarang Kiai Wahid: “… ia memerlukan bangkit dari tempat duduknya mengucapkan sepatah kata terima kasih kepada qori’…” Bahkan Kiai Wahid kemudian memperbanyak penyiaran Alquran serta terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, dan mendirikan bersama H. Aboe Bakar dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, sebuah Jamiyatul Qurra wal-Huffadz.

Beberapa tirakat di atas, tentu tidak menggambarkan secara keseluruhan tirakat hidup Kiai Wahid. Akan tetapi, beberapa hal di atas, menggambarkan secara jelas, anak-anak Kiai Wahid, yang di antaranya adalah Gus Dur, dihidupi dengan jalan tirakat yang gentur dari sang ayah, dalam keseluruhan hidupnya. Laku hidup sebagai tirakat, dengan memperbaiki niat, dengan puasa yang gentur, mencintai Alquran, menjamu tamu dengan baik, dinamis dan terus bekerja untuk perbaikan-perbaikan kehidupan sosial, dengan tanpa mengurangi kesabaran dalam berjuang, dijadikan sebagai nafas, aliran darah, dan doa-doa, yang merembes ke dalam anak-anak Kiai Wahid, utamanya adalah Gus Dur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here