K.H. AFIFUDDIN Muhajir—Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, PBNU—menanggapi apa itu “Milk al-Yamin” Muhammad Syahrur.

Nah, merespons tanggapan terhadap disertasi Abdul Aziz yang rata-rata keras itu, Em Mas’ud Adnan, wartawan Bangsa Online (BO), mewawancarai K.H. Afifuddin Muhajir, Rais Syuriah PBNU dan mantan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU yang juga wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo Jawa Timur, Selasa (3/9/2019). Berikut petikannya:

Kiai Afifuddin Muhajir (KAM): Istilah “Milk al-Yamin” yang berarti kepemilikan budak, berasal dari Alquran. Bisa saya kemukakan dua ayat Alquran sebagai contoh:

Baca juga: Prinsip Dasar Perkawinan dalam Islam yang Revolusioner

Firman Allah dalam Surah al-Mukminun:

و الذين لفروجهم حافظون الا على ازواجهم او ما ملكت ايمانهم.

Ayat ini berisi larangan melakukan hubungan seks kecuali dengan istri melalui akad nikah, atau dengan budak miliknya (المملوكة) yang diperoleh melalui salah satu proses kepemilikan.

Firman Allah dalam Surah an-Nisa ayat 25:

فمن لم يستطع منكم طولا ان ينكح المحصنات فمما ملكت أيمانكم من فتياتكم المؤمنات………… . ذلك لمن خشي العنت نكم

Salah satu kandungan ayat ini ialah bolehnya laki-laki mengawini budak dengan dua syarat: (1) Tidak mampu kawin dengan perempuan merdeka. (2) Karena khawatir terjerumus pada perzinaan jika tidak kawin.

Dari dua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa bolehnya hubungan seks dengan budak bisa melalui dua jalan:

(1) Melalui “Milk al-Yamin”, yakni dengan budak miliknya sendiri. Ini boleh sepanjang budak itu tidak dikawinkan dengan laki-laki lain. (2) Melalui pernikahan, tentu bukan dengan budak miliknya sendiri, melainkan dengan budak milik orang lain yang tidak dipakai atau tidak menjadi selir tuannya. Ini hanya boleh jika terpenuhi dua syarat seperti tersebut di atas.

Baca juga: Tubuh Perempuan Milik Siapa?

BO: Apa ada konsekuensi hukum yang berbeda, terutama status anak hasil hubungan seks melalui “Milk al-Yamin dengan hubungan seks melalui pernikahan?

KAM: Ada. Anak yang lahir melalui “Milk al-Yamin itu merdeka. Sedang anak yang lahir melalui pernikahan dengan wanita budak menjadi budak. Oleh karena itu Alquran melarang mengawini budak kecuali dengan syarat-syarat tertentu.

BO: Dari mana lahirnya perbudakan?

KAM: Salah satu anugerah Allah kepada umat manusia dituangkan dalam firman-Nya:
و لقد كرمنا بني آدم

“Yakni kemuliaan sebagai manusia (الكرامة الإنسانية).”

Salah satu wujud dari “al-karamah” itu adalah kesetaraan dan kemerdekaan. Sebagai anugerah Allah, kemerdekaan manusia tidak bisa dilepaskan oleh siapa pun termasuk oleh manusia itu sendiri.

Sayyidina Ali r.a. berkata: لا تكن عبد غيرك و قد خلقك الله حرا

Artinya: Kamu tidak boleh menjadi budak orang lain sementara Allah telah menjadikanmu merdeka.

Salah satu misi Islam datang ke bumi ini adalah menghapus perbudakan yang menjadi fenomena zaman jahiliah. Bagi syariat Islam, memerdekan budak merupakan amal ibadah yang pahalanya sangat besar. Allah berfirman: فكٌ رقبة

Komitmen Islam bagi pemberantasan perbudakan terlihat dalam beberapa ketentuan syariatnya yang banyak mengaitkan pelanggaran agama dengan kewajiban memerdekakan budak.

Baca juga: Citra Perempuan Ideal dalam Alquran

BO: Tapi, kenapa Islam memperbolehkan budak digauli oleh tuannya?

KAM: Pemilik budak diperbolehkan berhubungan seks dengan budaknya sebenarnya salah satu cara Islam untuk menghapus perbudakan, karena budak tersebut potensial menjadi budak “ummu walad” yang pada saatnya akan menjadi merdeka.

Pendek kata, kemerdekaan manusia adalah original, sedang perbudakan adalah insidental.

Islam hanya mengakui satu pintu bagi terjadinya kebudakan dan perbudakan. Yaitu penangkapan dalam peristiwa peperangan antara “muslimin” dan “musyrikin”, seperti yang dialami oleh Ummu al-Mukminin Sayidah Juwairiyah r.a. dalam perang “Bani Mushtholiq”. Beliau adalah putri pimpinan kaum Bani Mushtholiq menjadi tawanan perang dan dinyatakan sebagai budak. Setelah dimerdekakan, beliau dikawin oleh Baginda Nabi saw.

BO: Apakah Nabi Muhammad punya budak perempuan yang juga digauli?

KAM: Punya. Yaitu Mariyyah al-Qibthiyyah, pemberian Muqauqis, Raja Mesir.

Baca juga: Bidadari Surga

BO: Apakah pada zaman sekarang dimungkinkan seseorang melakukan hubungan seks tidak melalui akad nikah, tapi melalui “Milk al-Yamin”?

KAM: Kita wajib bersyukur bahwa pada saat ini sudah tidak ada lagi budak. Umat manusia sudah merdeka semua. Dan itu tak terlepas dari komitmen Islam untuk memberantas perbudakan. Alhamdulillah, beberapa konvensi internasional memiliki komitmen yang sama dengan Islam dalam soal pemberantasan perbudakan.

Dengan tidak adanya budak pada saat ini, maka dengan sendirinya pintu menuju praktik seks melalui “Milk al-Yamin” tertutup. Dan, semoga terus tertutup.

Tulisan ini dirangkum oleh K.H. Ma’ruf Khozin, Direktur Aswaja Center NU.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here