NAMANYA pesantren al-Islah, yang berdekatan dengan Kali Bogowonto. Pesantren ini terletak di wilayah Ngemplak, Sidomulyo, Purworejo. Dulu pesantren ini, tempat mulangnya, kiai yang sangat terkenal di Purworejo dan sekitarnya. Namanya Syaikh Raden Mbah Imam Maghfura, yang dikenal dengan sebutan Mbah Imam Puro, dan pesantrennya dulu bernama Pesantren Sidomulyo. Beliau, menurut dzurriyah beliau, mursyid tarekat Syathariyah-Syadziliyah, bernama Kiai Adib Luhfi Hakim, yang sekarang juga menjadi pengasuh di pesantren al-Islah, berasal dari Yogyakarta. Sebagai perintisan kembali Pesantren Sidomulyo, Pesantren al-Islah, didirikan pada tahun 1963, seperti yang ada dalam data Kemenag.

Makam keramat Mbah Imam Puro berada di Geger Menjangan (Punggung Menjangan, karena perbukitan itu mirip dengan punggung menjangan bila dilihat dari jauh), sebuah gunung kecil, atau tepatnya sebuah bukit. Jadi, makamnya tidak berada di kompleks Pesantren Al-Islah. Beliaulah yang membawa pertama kali tarekat Syathariyah-Sadziliyah, yang diamalkan dalam satu amalan di Pesantren al-Islah. Beliau menerima tarekat Syathariyah dari Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti Syafi`iyah di Mekkah. Dari silsilah sanad Mbah Imam Puro dalam tarekat Syathoriyah ini, terdapat banyak Sadat Ba Alawi, dan bukan melalui Syaikh Abdullah Syathori, yang terkenal dengan tarekat Syathoriyahnya di dunia Islam.

Mbah Imam Puro adalah salah seorang yang menyokong Diponegoro di dalam Perang Jawa, untuk wilayah Purworejo, di samping Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban yang berpusat di Bulus. Murid yang berbaiat tarekat kepada Mbah Imam Puro, berdasarkan data penuturan di dalam Manaqib, ada juga yang dari kebumen dan Kudus. Sayangnya dalam Manaqib tidak disebutkan tahun kehidupan Mbah Imam Puro. Hanya saja, kalau diperhatikan keterlibatan dengan perang Diponegoro, antara 1825-1830, maka dapat dikatakan hidup beliau antara tahun itu dan setelah perang Diponegoro.

Mbah Imam Puro asy-Syathari
Ada sedikit keterangan, dalam kitab Majmu Mustamil yang menghimpun selawat, doa, wirid-wirid dan tarekat Raden Imam Puro, silsilah tarekat yang diamalkannya, bersumber dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan yang dikenal sebagai Mufti Syafi`iyah di Mekkah, pengarang berbagai kitab yang terkenal. Dalam Ensiklopedi Nahdlatul Ulama (I: 99), disebutkan nama-nama murid Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan, di antaranya K.H. Shaleh Darat, Syaikhona Kholil, Sayyid Utsman, dan banyak lagi. Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan ini wafat tahun 1886 M. Oleh karena itu, hal ini juga menguatkan bahwa hidupnya Mbah Imam Puro sekitar abad itu.

Dalam silsilah sanad tarekat Mbah Imam Puro, yang menerima dari Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan, disebut menerima tarekat dari Habib Abdurrahman bin Ali Saqqof, dari Syaikh Ali bin Umar, dari Syaikh Umar bin Saqqof, dari Habib Hasan Abdullah bin al-Haddad, dari Sayyid Abdurrahman bin Alwi al-Haddad, dari Habib Umar bin Abdurrahman al-Athasy, dari Habib Abu Bakar bin Salim, dari Habib Umar bin Muhammad Ba Syaiban, dari Habib Abdurrahman bin Ali as-Saqqof, dari Habib Ali bin Abdurrahman as-Sakron, dari Syaikh Bakar bin Abdurrahman as-Saqqof,dari Syaikh Abdurrahman, dari Syaikh Habib Muhammad Maulad Dawilah dari Syaikh Alwi bin al-Faqih al-Muqoddam, dari al-Faqih al-Muqoddam Muhamamd bin Ali, terus sampai ke atas dari Muhammad al-Baqir, sampai dari Nabi Muhammad. Dari jalur ini tarekat syathariyah Mbah Imam Puro, bukan melalui Syaikh Abdullah Syathari.

Memang pada umumnya orang menamakan tarekat Syathariyah dinisbahkan kepada Syaikh Abdullah Syathari, dimana silsilah Syathariyah diteruskan, misalnya lewat Syaikh Abdurro’uf Sinkel di Aceh lalu ke Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan di Jawa atau Syaikh Burhanuddin Ulakan di Sumatra; dan atau melalui Syaikh Muhammad As`ad dari Syaikh Said Thahir Madani (sebagaimana yang berkembang di Jejeran dan Giriloyo) melalui jalan Syaikh Muhammad Asyari. Dalam kedua jalan ini semua menggunakan jalur al-Qusyasi, dan sampai ke atas guru-gurunya kepada Imam Ja’far as-Shadiq dari Imam Muhammad al-Baqir, tetapi tidak melalui jalan guru-guru Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan.

Dilihat dari penjelasan demikian, penamaan yang dilakukan para sarjana tentang Syathariyah untuk hanya bagi para pengikut dari silsilah Syaikh Abdullah Syathari, kurang tepat. Penamaan itu sebenarnya lebih merujuk penamaan makna dari Syathari itu sendiri yang bermakna: “Orang-orang yang mahir dan cerdik” dalam menempuh perjalanan. Penamaan itu diambil dari kata Syuthhôrun, jama’ dari Syâthirun. Ada juga yang memaknai Syathari untuk makna orang-orang yang begerak cepat dalam pejalanan dan mengerti rahasia-rahasia.

Oleh karena itu, ketika tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah-Syathariyah yang bersumber dari Syaikh Ibrahim Brumbung melalui jalan K.H. Hasan Anwar, dan ke atasnya para guru sampai kepada Syaikh Abdul Qodir al-Jilani dan Imam Ja’far as-Shodiq dari Imam Muhammad al-Baqir, bukan melalui jalan Syaikh Abdullah Syathari, tetapi ada nama Syathoriyahnya juga.

Pertemuan sanad guru ada pada Imam Ja’far ash-Shodiq: Pertama, dari Imam Ja’far diwariskan kepada Syaikh Abu Yazid al-Busthami melahirkan (di antaranya) tarekat Syaikh Abdullah Syathori, yang pada zaman ini disebut oleh para sarjana sebagai Sathoriyah. Kedua, dari Imam Ja’far as-Shodiq kepada Imam Musa al-Kazhim melahirkan ke guru-guru di bawahnya kepada Syaikh Abdul Qodir al-Jilani sampai kepada Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Ketiga, dari Imam Ja’far ash-Shadiq kepada Imam Ali al-Uraidhi sampai kepada guru-guru di kalangan Ba Alawi, termasuk Imam Muhajir Ahmad bin Isa sampai kepada Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan, lalu kepada Mbah Imam Maghfuro (Imam Puro).

Oleh karena itu, kalau ada tarekat yang dinamakan Syathariyah oleh guru-guru tarekat yang mengamalkan tarekat itu, dan tidak melalui Syaikh Abdullah Syathari dan metodenya berbeda, mereka memberikan arti makna Syathariyah, bukanlah bermakna pengikut dari Syaikh Abdullah Syathari. Sebaliknya, mereka menerima dari guru-gurunya, dan arti Syathari dikembalikan kepada makna bahasanya, yaitu orang-orang yang cerdik dan pandai dalam menempuh perjalanan rohani, berdasarkan metode yang diterima dari guru-gurunya.

Tarekat yang diamalkan di Pesantren al-Islah, yang mursyidnya sekarang adalah Kiai Adib Luthfi Hakim (dzurriyah Mbah Imam Puro), adalah gabungan Syathariyah-Sadziliyah, dan menerima dari guru-gurunya dari Mbah Imam Puro, dari Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan.

Aurod Mbah Imam Puro
Selain zikir tarekat Syathariyah, di antara wirid-wirid Mbah Imam Puro, adalah Ratib al-Athas, Selawat Kubro yang dinisbahkan kepada Imam al-Junaid al-Baghdadi, dan banyak wirid lain. Beliau sendiri menyusun 1 selawat, disebut Selawat Tamla’u Khozainalloh (di antaranya diamalkan 100x), dan menyusun selawat dalam redaksi “An-Nabi Shollu Alaihi, Sholawatullahi alaih…”, dalam 15 bait, yang dipopulerkan kembali oleh Habib Syaikh. Beliau juga dikenal menyusun aurod yang dikenal dengan tahlilan pada saat ini.

Selawat Tamla’u yang disusun beliau, bunyinya demikian: “Allohumma sholli `ala Sayyidina Muhammad Sholatan tamla’u khoza’inalloh nuron watakunu lana wa lil mu’minina farjan wa farhan wa sururon wa `ala alihi wa shohbihi wasallim tasliman katsiron.”

Manaqib Mbah Imam Puro, disusun dalam kitab tipis pegon berjudul Manaqib Kiyahi Raden Imam Puro al-Masyhur biwaliyyillah, yang menghimpun perjalanan mencari ilmu, pertemuan dengan Syaikh di Mekkah, beberapa keramat, dan doa-doa lain yang disusun melalui riwayat murid dan mereka yang bertemu Mbah Imam Puro. Kitab ini disusun oleh mursyid tarekat Syathariyah-Sadziliyah, K.H. Muhammad Ma’mur al-Marhum, yaitu ayah dari Kyai Adib Luthfi Hakim, mursyid yang sekarang.

Selain itu ada juga Manaqib Mbah Imam Puro dalam bahasa Arab, disertai wirid tarekatnya, tetapi tidak ada penulisnya. Manaqib yang ini saya peroleh dari orang yang sering sowan kepada Habib Abdullah al-Haddad Sambisari, dan katanya menjadi salah satu aurod yang diajarkan kepada muridnya di situ.

Makam Mbah Imam Puro di perbukitan Geger Menjangan sering diziarahi orang. Apalagi kalau ada acara Sadhranan, makamnya sangat ramai. Untuk sampai ke makam ini, diperlukan waktu kurang lebih 30-an menit dari pusat alun-alun kota Purworejo, melalui kendaraan sepeda motor, melalui jalan ke arah perbukitan yang masih menggunakan cor semen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here