PADA umumnya—dalam kitab-kitab fikih—anjing selalu disudutkan sebagai hewan tak terpuji, tidak bermanfaat, bahkan dikategorikan najis “mughalladzah” atau najis berat. Akibatnya, ia selalu dipandang sebagai hewan hina dibanding hewan-hewan lainnya. Sehingga, seolah-olah tidak ada sifat anjng yang bisa ditiru karena selalu dilabeli hewan negatif.

Ini berbeda dengan pengamatan Imam Nawawi al-Bantani dalam kitabnya “Kasyifatus Saja”. Beliau melihat bahwa anjing merupakan hewan istimewa. Ia memiliki sifat khas yang perlu dicontoh dan diteladani oleh semua orang mukmin yang hendak menempuh jalan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Beliau, Imam Nawawi, menyebut sepuluh sifat anjing yang sangat terpuji sehingga perlu diketahui dan dijadikan pedoman oleh setiap orang mukmin.

Baca juga: Ketika Ulama Dinasihati Anjing

  1. Perut anjing senantiasa dalam keadaan lapar. Ini merupakan sifat dan ciri-ciri orang-orang saleh.
  2. Anjing tidak tidur kecuali hanya sebentar. Kebiasaan ini merupakan kebiasaan para ahli tahajud, salat malam.
  3. Ketika ia diusir—bahkan sampai seribu kali dalam sehari—ia tidak akan pergi dari pintu tuannya dan akan tetap setia menjaga pintunya. Ini merupakan sifat orang-orang yang jujur dan setia dalam mengabdi dan menyembah.
  4. Ketika ia mati, ia tidak meninggalkan warisan apa pun. Sifat ini merupakan sifat orang-orang yang zuhud.
  5. Ia rela ditempatkan di tempat yang paling rendah. Sifat ini merupakan sifat dari orang-orang yang rida atau ikhlas atas derajat yang diberikan Allah dan orang lain.
  6. Ia melihat pada setiap orang yang memperhatikannya hingga memberikan sesuap makanan. Ini merupakan budi pekerti atau akhlak orang-orang miskin.
  7. Ketika ia keluar dan dilempari debu, ia tidak marah dam tidak dendam. Hal ini merupakan sifat dari orang-orang yang berbelas kasih.
  8. Ketika tempat tinggalnya telah ditempati hewan lain, maka ia akan berpindah ke tempat yang lain. Ini merupakan sifat orang-orang terpuji.
  9. Ketika diberikan kepadanya hanya sesuap makanan, maka senantiasa menerima dan memakannya. Ini merupakan sifat dari orang-orang “qana’ah” atau menerima apa yang diberikan oleh Allah dan orang lain.
  10. Ke mana pun anjing pergi, ia tidak pernah membawa bekal. Ini merupakan tanda-tanda dari sifat orang-orang yang bertawakal.

Untuk lebih jelasnya, silakan dibaca kitab “Kasyifatus Saja” karya Imam Nawawi al-Bantani tersebut. Terima kasih dan selamat membaca.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here