SUATU ketika, saat menghadiri acara deklarasi damai yang bertajuk “Indonesia Rumah Bersama”, ada tiga pemuka agama yang memilih nongkrong dulu di warung kopi selepas acara selesai.

Di warung kopi, sambil menunggu sajian kopinya datang, mereka bertiga terlibat orbolan tentang Tuhannya masing-masing.

Pandita mememulai pembicaraanya tentang Tuhan yang diyakininya.

“Eh, kalian berdua sudah pada tahu tidak kalau Tuhan di agama saya itu sangat dekat dengan hamba-Nya.

“Hah, kok bisa?” Pendeta dan Kiai serempak menanggapi pembicaraan Pandita.

“Loh, lihat saya kalau doa pasti memanggilnya, Om. Dekat kan, seperti hubungan seorang paman dan ponakannya.” Jelas Pandita.

“Yaelah, dekatan saya lah kalau gitu. Saya setiap kali doa pasti memanggil-Nya Bapa(k). Nah, kan lebih dekat saya, soalnya sudah seperti hubungan ayah dan anak.” Pendeta menjelaskannya.

Kiai ternyata diam mendengar Pandita dan Pendeta menyampaikan tentang kedekatannya dengan Tuhannya. Kiai malah asyik menikmati hisapan rokoknya kemudian menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan.

Melihat Kiai yang tanpa respon itu akhirnya Pandita dan Pendeta pun menanyakannya.

“Pak Kiai, kenapa diam?”

“Kalian berdua ini bicara apa. Saya boro-boro dekat, setiap mau memanggilnya saja, saya musti pakai TOA.” Jawab Kiai dengan nada datar.

Mendengar jawaban Kiai itu, akhirnya mereka pun tertawa terbahak-bahak.

Pandita dan Pendeta serentak berekata: “Masuk, Pak Kiai!”

Pesan Ringan
Merawat sense humor itu penting, meski bicara hal yang sangat serius. Humor itu cara sehat memahami agama. Jadilah umat beragama yang riang gembira, tak mudah diadu domba dan gampang tersinggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here