DI AKHIR buku tipisnya, Taisir al-Ijtihad, Jalal ad-Din as-Suyuthi wanti-wanti tentang betapa bahayanya bila isu-isu intelektual ditanggapi oleh kaum awam yang nalarnya tidak biasa berpikir rumit dan suka menyederhanakan masalah. Untuk mengilustrasikan soal ini, ia bercerita tentang Kadi Siraj ad-Din al-Himshi.

Katanya, sang kadi kedatangan tamu seorang ahli fikih mazhab Hanafi. Setelah obrolan “ngalor-ngidul” tentang pelbagai persoalan, kedua ahli fikih beda mazhab ini langsung terlibat dalam perdebatan ‘panas’ tentang status hukum salat witir. Al-Himshi, sebagai kadi mazhab Syafi’i, berpendapat bahwa salat witir adalah sunah. Tamunya yang bermazhab Hanafi tidak setuju. Menurutnya, salat witir adalah ‘wajib’.

Nah, buat kawan-kawan yang bukan pengkaji usul fikih atau perbandingan mazhab, perlu diketahui bahwa mazhab Hanafi dan Syafi’i punya terminologi beda tentang konsep ‘ahkam’. Para ulama Syafi’i membagi hukum menjadi lima; wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram—yang bisa kita terjemahkan menjadi diperintahkan, dianjurkan, diperbolehkan, dibenci, dan dilarang.

Baca juga: Tentang Imam Mawardi dan Pentingnya Literasi Publik

Mazhab Hanafi, sementara itu, membagi ahkam menjadi enam; fardu, wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Pembedaan antara fardu dan wajib ini dilatarbelakangi oleh perhatian para ulama Hanafi terhadap status epistemologis hukum yang didasarkan pada hadis yang mutawatir (para penuturnya banyak sekali sehingga mustahil mengalami pemalsuan) dari yang ahad (yang diriwayatkan cuma oleh seorang penutur).

Massa yang awam, tentu tidak mengenal dan tidak mau repot-repot dengan perbedaan terminologis ini. Maka ketika al-Himshi menawarkan kepada sang tamu, “bolehkah topik diskusi kita saya ceritakan kepada jamaah masjid?” Dan sang tamu mengiyakan, ia langsung berpidato:

“Jamaah sekalian, Anda penasaran tentang apa yang kami perdebatkan barusan? Saya berpendapat bahwa Allah hanya mewajibkan 5 kali salat kepada kita. Tapi lelaki ini ingin mewajibkan 6 kali salat kepada kita.”

Baca juga: Tanggapan Terhadap “Milk al-Yamin” Muhammad Syahrur

Apa reaksi massa terhadap pidato al-Himshi ini? Mereka langsung panas dan berteriak, “Dasar Syiah!” Nyaris saja ahli fikih mazhab Hanafi ini dilempari batu oleh mereka. Membaca lagi anekdot as-Suyuthi ini sekarang, saya jadi mikir, di zaman medsos (media sosial) ini, padanan dari kata ‘awam’ kelihatannya adalah ‘netizen’.

Ditulis oleh Muhammad Ma’mum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here