TERDAPAT sebagian riwayat yang menyebutkan: Ahlu al-Bait disebut-sebut sebagai tinggalan Nabi yang didudukkan pada tempat terhormat. Ahlu al-Bait itu juga disebut di dalam hadis sahih, termasuk di dalamnya adalah Ahlu Abbas dan Ahlu Aqil, bukan hanya keturunan dari Sayyidah Fatimah, yang sangat mulia ini.

Penghormatan umat tidak diragukan lagi kepada mereka. Ahlu al-Bait itu, ada yang menjadi ulama-ulama besar, tetapi juga ada yang tidak. Ketika menjadi ulama, dia masuk dalam al-ulama’ waratsatu al-anbiya’—ulama adalah pewaris Nabi.

Akan tetapi, umat juga diingatkan ada riwayat yang memperingatkan, berkaitan dengan Fitnah Sarra’ di kalangan umat, berhubungan Ahlu al-Bait. Ketika membicarakan fitnah yang melanda umat, Nabi Muhammad diriwayatkan menyebut ada jenis Fitnah Ahlas, dan ada fitnah yang disebut dengan Fitnah Sarra’.

Fitnah Ahlas dihubungkan dengan peperangan dan permusuhan secara umum; tetapi Fitnah Sarra’ dihubungkan berasal dari Ahlu al-Bait Nabi.

Riwayat Fitnah Sarra’ ini, begini:
عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الْأَحْلَاسِ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الْأَحْلَاسِ قَالَ هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُون

Artinya:
Abdullah bin Umar berkata: “Saat kami duduk-duduk di sisi Rasulullah saw., beliau bercerita tentang fitnah, panjang lebar beliau bercerita seputar fitnah itu, hingga ia menyebutkan Fitnatu al-Ahlas.”
Seorang laki-laki lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah Fitnatu al-Ahlas itu?”
Rasulullah berkata: “Adanya permusuhan dan peperangan, kemudian fitnah sarra’—yang asapnya muncul dari kedua kaki seorang laki-laki ahlu baitku—ia mengaku berasal dariku, padahal dia bukan dariku. Sesungguhnya wali-waliku itu orang-orang yang bertakwa.”

Baca juga: Fitnah Akhir Zaman dari Dzuriyyah

Di mana riwayat ini disebutkan?
Riwayat di atas disebutkan Imam Ahmad dalam Musnad, No. 6168; juga pada riwayat Abu Dawud, No. 4242, pada Kitab al-Fitan di bab “Dzikru al-Fitan wa Dala’iluha.”

Dalam catatan kaki, pada Sunan Abu Dawud, juga disebutkan rijalnya tsiqat, tetapi dikutip juga ada pendapat Ibnu Abi Hatim yang berbeda soal ini menyebut bighoiri shahih, dan Abu Nu’aim menyebutnya gharib, dan disebut mursal, tidak marfu’ (tidak langsung bersambung kepada Nabi, karena tidak melewati sahabat).

Riwayat di atas juga disebut dalam catatan kaki di Sunan Abu Dawud itu, yaitu diriwayatkan: Imam Ahmad (No. 6168), ath-Thabrani dalam Musnad asy-Syamiyin (2551), al-Hakim (IV/466-467), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 5/158, al-Khatib di dalam “Maudhihu Auhamil Jam`i wat Tafriq” II/400-401, al-Baghawi di dalam Syarhus Sunnah (No. 4226), dan Naim bin Hammad di dalam kitab al-Fitan (No. 93).

Dalam riwayat Imam Ahmad perawi-perawinya demikian ini (No. 6168): menceritakan kepada kami Abdullah bin Salim, menceritakan kepada kami al-`Ala bin Utbah al-Himsy, dari Umair bin Hani al-Ansi, saya mendengar dari Abdullah bin Umar berkata: “Kami di sisi Rasulullah sedang duduk-duduk….”. Kemudian redaksinya disebut di atas.

Kalau dalam riwayat Naim bin Hammad dalam al-Fitan, sebagaimana disebut dalama catatan kaki itu, hanya disebut dari Umair bin Hani al-Ansi langsung kepada Rasulullah lalu disebut mursal, tetapi dalam riwayat Imam Ahmad di atas, disebutkan Hani menerima dari Abdullah bin Umar dari Nabi, sehingga bersambung.

Pensyarah dalam Kitab Aunul Ma’bud
Dalam kitab “Aunul Ma’bud ala Syarhi Sunan Abdi Dawud” (pada Syarah jilid II: 1928, hadis No. 4242, Dar Ibnu Hazm, Lubnan, 1426/2005, dalam satu cetakan yang digabung), menyebutkan apa Fitnah Sarra’ itu begini:

“Fitnah Sarra’ itu, dijelaskan oleh al-Khathabi: “Yang dimaksud dengan as-Sarra’ an-Na’ma’i (adanya kelapangan kenikmatan) yang ada pada manusia dalam bentuk sehat, rakha’, dan ‘afiyah, (dan) di antaranya fitnah (dalam jenis kelapangan nikmat dari Allah) itu adalah berbentuk bala’ dan waba’; dan disandarkan pada as-Sarra’, karena sebab terjadinya, ada banyak maksiat disebabkan oleh karena banyaknya nikmat atau karena banyaknya musuh, selesai.”

Di dalam kitab an-Nihayah, disebutkan as-Sarra’ al-Batkha’, dan berkata: “Sebagian mereka, (tentang Fitnah Sarra’) yaitu fitnah yang masuk ke dalam batin dan menggoncangkannya, dan dia tidak tahu, arahnya.”

Fitnah Sarra’ itu, kalau dalam syarah Sunan Abu Dawud di atas, wujudnya adalah bala dan penyakit, di tengah banyak kelapangan nikmat, atau karena banyak musuh, dan atau juga karena banyak maksiat. Yang ditekankan dalam riwayat itu, bahwa Fitnah Sarra’ muncul dari salah satu Ahlu al-Bait Nabi. Kenapa muncul Fitnah Sarra’ dari Ahlu al-Bait, disebut dengan “Yang asapnya muncul dari kedua kaki seorang laki-laki ahlu al-bait-ku”, lalu pensyarah itu menjelaskan, begini:

“Yaz`umu annahu minni (ia mengaku berasal dariku).”
“Wa laisa minni (padahal dia bukan dariku).”

Kata “yaz`umu annahu minni” dimaknai oleh pensyarah Aunul Ma’bud begini:

“Maksudnya adalah di dalam perbuatan, meskipun dia bernasab dariku (dari Nabi). Walhasil, fitnah itu, disebabkankanya, dan sesungguhnya dia itu ba’its (yang bangkitkan) dari terjadinya fitnah itu. Sedangkan kata “falaisa minni” dimaknai: ‘Maksudnya dari akhla’-ku atau dari ahliku di dalam perbuatan, karena sesungguhnya meskipun dia dari ahliku, lam yahij di dalam fitnah, dan penglihatan ini, seperti (juga disebutkan) dalam QS. Hud ayat 46: ‘Sesungguhnya (perbuatan)-nya perbuatan yang tidak baik’ (konteks ayat ini adalah keluarga Nuh), atau dalam hakikatnya dia bukan termasuk auliya’-ku. Dan dikuatkan juga dengan kalimat ‘Inna auliya’i al-muttaqun’.”

as-Sahranfuri dalam Badzlul Majhud fi Halli Abu Dawud (VII: 132), juga menyebutkan makna atau syarah yang hampir sama dengan Aunul Ma’bud, tetapi lebih dipadatkan lagi. Yang intinya dalam perbuatan orang yang mengaku ‘minni’ (bernasab dengan Nabi), ada yang tidak mencerminkan ‘minni’ atau tidak ‘mencerminkan Auliya’-Nabi Muhammad’, sebab auliya’-nya itu orang-orang yang bertakwa. Maka ini adalah salah satu i’jaz nubuwwah, kepada orang-orang yang tidak bernasab, bahwa hakikat dari auliya’-nya Nabi itu orang muttaqun (bukan karena nasab). Dan diperjelas dalam riwayat itu, Fitnah Sarra’ bisa muncul dari asapnya laki-laki dari Ahlu al-Bait, ketika keadaan-keadaan yang disebutkan di atas muncul, yaitu mereka yang mengaku ‘minni’, tetapi hakikatnya dia bukan ‘minni’, atau bukan dariku, hakikatnya bukan auliya’-nya Kanjeng Nabi.

Kenapa demikian? Sebab, posisi Ahlu al-Bait itu disebut dalam sebagian penjelasan, sebagai syajarotun nubuwwah dan ma’danul Ilmi. Dia kemudian diikuti banyak orang. Ketika yang diikuti itu, mengaku ‘Minni’, tetapi sejatinya disebut ‘falaisa Minni’ dalam akhlaknya, tentu akan menjadikan syajarotun nubuwwah itu keruh, dan air kekeruhan itu diminum umat.

Hanya saja, bahwa Ahlu al-Bait adalah orang yang memperoleh kedudukan terhormat, dalam beberapa hadis Nabi, dan umat mengerti kedudukan itu, sudah sangat jelas. Kita melihat guru-guru kita dari Ahlu al-Bait (ternyata sebagian mereka sendiri Ahlu al-Bait juga ada yang Syi’ah), adalah orang-orang mulia, pemaaf dengan sesama, mau menanggung penderitaan umat dengan doa-doa mereka dan usaha-usaha konstruktif mereka, tidak mau menerima zakat, bertutur kata baik, menjadi penerang masyarakat, menjadi pembangkit persatuan dalam keterpecahan; bukan pengadu domba, bukan pengumpat dan pencela, dan bukan merintis jalan dakwah Khoriji. Sebab mereka bukan hanya paham ilmu dhahir, tetapi juga ilmu hakikat-hakikat, dan paham tentang rahmat Allah dalam semesta.

Dalam syarah Aunul Ma’bud, dikutip juga perkatan al-Ardabili tentang Fitnah Sarra’ itu: “Di dalamnya terdapat i’jaz bagi nubuwwah, dan i’tibar setiap i’tibar, bagi orang yang bertakwa, dan meskipun dia jauh dari nasab Rasulullah.”

Para auliya’-nya adalah al-muttaqun, meskipun nasabnya jauh dari Nabi. Dan meskipun nasabnya dekat dengan Nabi, tetapi kalau dalam perbuatannya tidak mencerminkan al-muttaqun, maka riwayat di atas menyebutkan: “walaisa minni”, maka “ia bukan dariku.”

Semoga umat Islam terhindar dari Fitnah Sarra’, dengan tidak munculnya berbagai bala dan penyakit di tengah umat. Berbagai bala dan waba’, dalam riwayat di atas, disebutkan karena disebabkan oleh adanya Ahlu al-Bait yang ‘minni’ tetapi disebut ‘falaisa minni’, di dalam amal-amalnya, termasuk dalam caranya berdakwah, yang seharusnya mereka menjadi syajarotun nubuwwah dan ma’danul ilmi. Kita juga berharap sebagian Ahlu al-Bait intropeksi dalam dakwahnya, yang menggunakan kata-kata kasar dan mencela.

Maka kita mendukung ditegakkannya hukum, yang benar-benar adil, berkaitan dengan sebagian orang yang mengaku keturunan Nabi, tetapi kemudian diperkarakan secara hukum, karena dianggap atau disangka berbuat tindakan yang kurang terpuji, oleh sang penuntut. Dan hukum yang adil kepada mereka, akan dapat menjadi i’tibar umat: kalau terbukti tidak salah, semoga menjadi pelajaran dari semua aspek dalam kaitannya dengan dakwah; dan kalau terbukti bersalah, semoga Allah menghindarkan kita dari Fitnah Sarra’, dan umat harus bisa intropeksi pula, dalam semua aspek, bahwa dakwah sebagian mereka kaitannya dengan politik, perlu direfleksikan ulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here