KARENA Nabi Muhammad saw. merupakan orientasi terpenting dari kehendak Allah Swt. yang azali dalam konteks keterkaitannya dengan penciptaan, maka dapat dipastikan adanya dua hal berikut ini. Pertama, tidak ada yang lebih sempurna, lebih istimewa, dan lebih mulia di antara seluruh makhluk di hadapan hadirat-Nya dibandingkan dengan beliau.

Posisi itu yang kemudian menjadikan beliau sebagai اقرب الوسائل atau paling dekatnya perantara kepada Allah Swt. Sehingga dapat digaransi bahwa siapa pun yang mendekat kepada beliau secara spiritual bisa dipastikan dia akan menjadi orang yang mendapatkan kedudukan yang mulia di hadapan hadirat-Nya. Itulah sebabnya umat Islam dengan tegas diperintahkan untuk mencontoh tauladan-tauladan beliau dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan.

Kedua, secara substansial, tidak ada siapa pun dari kalangan makhluk yang lebih “mirip” dengan Allah Swt. dibandingkan dengan Nabi Muhammad saw. Kemiripan di sini tidak ada sangkut pautnya dengan rupa, bentuk dan warna. Karena dapat dipastikan bahwa Allah Swt. itu Maha Suci dari hal-ihwal tersebut. Tapi lebih menunjuk kepada akhlak dan perilaku beliau secara esensial. Itulah sebabnya kenapa pada suatu hari beliau pernah melontarkan sabdanya, “Berakhlaklah kalian sebagaimana Allah Swt.”

Baca juga: Pesan Nabi; Indonesia Benderanya Merah Putih

Itulah pula sebabnya kenapa Siti ‘Aisyah, istri beliau, pernah menyatakan bahwa akhlak Nabi Pungkasan saw. itu tidak lain adalah Alquran. Artinya adalah bahwa tidak ada satu pun dari kalam hadirat-Nya itu yang tidak diamalkan dengan sepenuh hati oleh beliau.

Dari sini kemudian bisa ditarik sebuah konklusi bahwa kehadiran beliau di pentas sejarah kehidupan umat manusia secara hakiki merupakan salinan yang paling sempurna dan cemerlang dari kehadiran Allah Swt. itu sendiri. Beliau merupakan naskah agung paling otentik yang datang langsung dari hadirat-Nya. Sikap hidup dan sepak terjang beliau senantiasa dipandu oleh tangan kemahaan-Nya sehingga selalu terjaga dari keterperosokan dan perbuatan serong yang bisa menjadikan namanya tercemar.

Sebuah stempel transendental datang secara langsung dari suatu ayat di dalam Alquran yang menjamin keterjagaan beliau dari kekalahan terhadap keburukan dan kekelaman nafsu, “Dan tidaklah beliau bertindak kerena hawa nafsu melainkan dibimbing wahyu yang diturunkan kepadanya,” (QS. an-Najm: 3).

Baca juga: Mbah Moen dan Nabi Khidir

Dan karena Nabi Muhammad saw. merupakan yang paling inti dari seluruh rangkaian penciptaan, merupakan naskah paling agung, merupakan realitas yang paling utuh dari segala wujud, merupakan ringkasan paling mulia dan paling sempurna dari seluruh yang ada, sangatlah pantas kalau beliau mendapatkan pertolongan yang terbesar dari Allah Swt. Sebab, lewat perantara beliaulah rahmat-Nya itu mengalir dan memenuhi segenap alam semesta.

Ibarah sebuah wadah, beliau adalah wadah karunia yang paling luas, paling besar dan paling tangguh. Sehingga beliau sangat memenuhi syarat untuk menerima sebanyak mungkin keberuntungan dan karunia dari hadirat-Nya. Sampai-sampai ada ungkapan tentang beliau di kalangan para sufi bahwa para nabi itu diciptakan dari rahmat Allah Swt., sementara junjungan umat Islam Nabi Muhammad saw. tak lain merupakan rahmat itu sendiri.

Baca juga: Doa Bahasa Jawa Ulama-ulama Nusantara

Dan rahmat terbesar dan paling bergengsi secara spiritual itu adalah karunia rohani. Seluruh karunia materi hanyalah secuil kalau dibandingkan dengan karunia rohani. Karena itu, tidak akan pernah ada siapa pun yang telah mencicipi dan mengunyah rahmat rohani akan menjadi tergila-gila dan memburu karunia materi semata. Tidak mungkin. Karena jarak perbandingan di antara keduanya itu sangat jauh, jauh sekali. Seperti jauhnya jarak nilai antara tumpukan kerikil dengan intan permata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here