KALAU Anda pernah merasakan hidup sebagai Muslim minoritas di negeri Barat, Anda akan merasakan betapa sakitnya menjadi obyek yang “dicurigai”, di-lain-kan, menjadi sasaran fobia yang bisa berujung pada kekerasan seperti di New Zealand kemarin. Karena itu, hormatilah minoritas di mana pun.

Di setiap negara pastilah selalu ada sekelompok orang yang kebetulan menjadi minoritas—dalam level mana pun: minoritas budaya, bahasa, etnik, agama, mazhab, sekte, ekonomi, dll. Mari hormati perasaan kaum minoritas, dan lindungilah hak-hak mereka.

Umat Islam bisa menjadi mayoritas di sebuah tempat, tetapi di tempat lain ia menjadi minoritas. Pengalaman minoritas Muslim sama dengan pengalaman minoritas mana pun. Pengalaman minoritas selalu kurang lebih sama di mana-mana: mereka disepelekan, diliyankan, diabaikan, tak dihitung.

Yang menyedihkan adalah pengalaman minoritas dalam konteks pemilu. Di banyak negara, minoritas ini kalau tidak jadi sasaran perundungan (bully), ya jadi sasaran perolehan suara. Apalagi jika kompetisi ketat dan tak ada pihak yang unggul mutlak. Minoritas jadi “tie breaker”.

Yang menyedihkan adalah: mem-bully minoritas itu mudah karena “harga politik”-nya murah, tidak ada resiko, dan biasanya mendapat tepuk tangan dari selapisan mayoritas yang kebetulan konservatif. Karena itu, minoritas bisa jadi tumbal dalam demokrasi yang terbuka.

Umat Islam jelas perlu merumuskan “fiqhul aqalliyyat”, fikih minoritas yang pas dengan tantangan modern. Sebab umat Islam sekarang pun menjadi minoritas di banyak tempat. Dan, fiqhul aqalliyyat ini perlu mendengar suara dan pengalaman minoritas, termasuk minoritas Muslim.

Fikih Islam klasik ditulis dari sudut pandang pengalaman umat Islam sebagai mayoritas. Karena semua ulama Islam klasik yang menulis buku-buku fikih klasik dulu hidup di negeri-negeri di mana umat Islam adalah mayoritas. Masih jarang fikih yang ditulis dari sudur pandang pengalaman minoritas.

Yusuf Qardawi adalah salah satu dari sedikit ulama yang menulis tentang fikih minoritas ini. Sementara itu, setahu saya, masih belum ada ulama fikih Indonesia yang menulis fikih minoritas ini, meski pun pikiran-pikiran terserak dari sebagian ulama dan sarjana Islam tentang tema ini sudah ada.

Umat Islam perlu fikih yang tidak ditulis dari sudut pandang “tajribah tafawwuqiyyah”, pengalaman superioritas, yang menjadi ciri fikih klasik kita. Melainkan juga fikih yang ditulis dengan mempertimbangkan pengalaman sebagai minoritas yang dipinggirkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here