PARA kekasih Allah (waliyullah) bukan hanya didominasi kaum lelaki. Urusan makrifat kepada Allah tidak memandang siapa pun.

Sudah banyak kita mendengar kaum perempuan mencapai martabat ruhani yang sangat tinggi di hadapan Allah, contoh legendaris adalah waliyullah perempuan agung yang bernama Rabiatul Adawiyah.

Menurut pengamat sufi internasional, mulai zaman dulu hingga sekarang para guru tarekat di seluruh belahan dunia ini didominasi oleh kaum lelaki. Jarang sekali—bahkan tidak ada—guru tarekat perempuan atau para “Mursyidah” yang mempunyai murid tarekat. Di negara-negara Islam di dunia diskriminasi gender masih terasa kental. Perempuan jarang diberi kesempatan untuk maju sebagai pemimpin spiritual meskipun terbatas di kalangan kaum perempuan sendiri.

Baca juga: Citra Perempuan Ideal dalam Alquran

Kita justru berbangga, di Indonesia—dan ini hanya khusus ada di suku Madura—perempuan diberi kesempatan maju sebagai pemimpin spiritual tinggi dalam tarekat sufi. Siapa saja para waliyullah perempuan yang menjadi mursyidah?

Di Gondanglegi Malang ada seorang keturunan Nabi Muhammad saw yang bernama Syarifah Nur—masyarakat setempat memanggil “Ipah Nung”. Menurut informasi, Syarifah Nur Fad’aq ini memeroleh ijazah mursyidnya dari Syaikh K.H. Fathul Bari Sampang. Beliau pernah tinggal di rumah adik Syaikh K.H. Lathifi Baidhowi yang bernama Nyai Maryam binti Baidhowi di Sukosari Gondanglegi selama 1 tahun. Suami syarifah ini bernama Habib Muhammad al-Khirid. Syarifah Nur mempunyai ratusan murid yang semuanya adalah “akhawat”.

Di Sumenep ada lagi seorang syarifah yang mempunyai ribuan murid tarekat yang semuanya adalah perempuan. Nama mursyidah ini adalah Syarifah Fatimah binti Muhammad al-Hinduan. Syarifah ini adalah murid dari Syaikh K.H. Ahmad Sirajuddin Sampang dan setelah itu beliau memeroleh ijazah mursyidnya dari Syaikh K.H. Syamsuddin Umbul Tambulangan Sampang.

Baca juga: Tubuh Perempuan Milik Siapa?

Syarifah ini sangat “mukasyafah”, sebelum Kiai Lathifi diangkat mursyid, beliaulah yang tahu bahwa Kiai Lathifi Baidhowi mempunyai martabat ruhani tinggi bahwa sudah pantas diangkat sebagai mursyid hingga Kiai Lathifi diajak berkunjung ke Syaikhona K.H. Ali Wafa di Ambunten Sumenep. Syarifah Fatimah ini masih sepupu dengan Habib Muhsin Ali al-Hinduan. Murid Syarifah ini di Madura sangat banyak dan bahkan sampai ke Malang dan Situbondo.

Di Sampang ada lagi seorang mursyid perempuan, beliau bernama Nyai Thobibah binti Khudzaifah. Beliau memeroleh ijazah mursyidnya dari Syaikh K.H. Ali Wafa Ambunten. Semua muridnya adalah perempuan.

Tiga pionir “Mursyidah Naqsyabandiyah al-Mudzhariyah” di atas semuanya telah wafat. Para waliyullah perempuan tadi adalah bukti bahwa bangsa Indonesia—khususnya suku Madura—sangat menghormati gender. Dan ini tidak berlebihan. Hanya di masyarakat Madura ada pemimpin spiritual tinggi (Mursyid Perempuan) dari kalangan perempuan. Hal ini tidak pernah ditemukan di negara-negara lain. Subhanallah.

Baca juga: Prinsip Dasar Perkawinan dalam Islam yang Revolusioner

M. Karim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here