HABIB Luhtfi bin Ali bin Yahya, Ketua Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) dalam salah satu kesempatan mengklasifikasi Kiai sesuai perannya di masyarakat—khususnya yang ada di Nusantara ini—sebagai berikut:

Baca juga: Karomah Mbah Hasyim Asy’ari

  1. Kiai Tandur, yaitu kiai yang berperan dalam “nandur” atau menanam bibit unggul generasi masa depan. Lewat pesantren, madrasah diniyah dan taman pendidikan Alquran (TPQ). Kiai ini mendidik dan mengajari santri tentang akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan tak lupa membekali mereka dengan keterampilan-keterampilan bekerja untuk kehidupannya nanti di masyarakat.
  2. Kiai Catur, disebut kiai catur karena kiai ini ikut ambil bagian secara langsung dalam percaturan politik dengan tujuan; mengawal dan memastikan peraturan dan undang-undang berpihak pada kepentingan agama dan rakyat, memberikan masukan program-program yang bermanfaat bagi kepentingan agama dan rakyat, serta menangkal dan membendung kepentingan-kepentingan yang bisa merugikan agama, bangsa dan negara.
  3. Kiai Tutur, yaitu kiai yang berperan memberikan “pitutur” atau nasihat, berceramah di hadapan khalayak umum—baik di musala, masjid dan tempat-tempat umum lainnya. Kiai model ini biasa dikenal dengan sebutan mubalig atau dai.
  4. Kiai Sembur, yaitu kiai yang menjadi “jujukan” masyarakat umum. Biasanya orang yang datang kepada kiai ini, bertujuan meminta barokah doa untuk kesembuhan penyakit, kelancaran usaha, bisnis maupun jodoh. Bahkan banyak pula pejabat atau calon pejabat yang menitipkan hajatnya kepada beliau. Mereka menyakini kyai ini semburan doanya mustajab, ampuh. Kiai tipe ini biasanya dijuluki ahli suwuk atau ahli hikmah.
  5. Kiai Wuwur, merupakan kiai yang menjadi rujukan para kiai lainnya dalam menghadapi masalah yang belum jelas hukumnya. Mereka ini adalah ahli fatwa, karena menguasai banyak fan ilmu agama, sekaligus dermawan, karena sering berbagi kepada umat baik berupa; memberi santunan, menggratiskan biaya pendidikan atau memberi makan setiap tamu yang hadir di tempatnya.

Perlu diketahui bahwa klasifikasi di atas tentunya tidak membatasi keragaman kiai yang ada di Nusantara ini. Masih banyak kiai-kiai lain dengan kompetensi berbeda.

Baca juga: Akhlak Habib Munzir Pada Biarawati

Mohammad Bahauddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here