SELAMA ini kita hanya mengenalnya sebagai H. Mutahar, pencipta puluhan lagu wajib nasional. Ternyata beliau adalah seorang habib, keturunan Rasulullah saw. Nama lengkapnya adalah Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar, paman dari Habib Umar Mutahar Semarang. Beliau juga dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka asli (saat Agresi Militer Belanda II) dan pendiri Paskibraka.

Habib Muhammad Husein Mutahar adalah seorang komponis lagu Indonesia yang hebat. Habib yang dikenal dengan nama H. Mutahar ini telah menghasilkan ratusan lagu Indonesia, seperti lagu nasional “Hari Merdeka”, “Hymne Syukur”, “Hymne Pramuka”, “Dirgayahu Indonesiaku”, juga lagu anak-anak seperti “Gembira”, “Tepuk Tangan Silang-silang”, “Mari Tepuk”, dan lain-lain. Lagu “Hari Merdeka” dan “Hymne Syukur” adalah salah satu lagu fenomenal yang diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Mutahar.

Terkait penciptaan lagu “Hari Merdeka”, ada satu cerita menarik. Ternyata inspirasi lagu “Hari Merdeka” ini muncul secara tiba-tiba saat beliau sedang berada di toilet salah satu hotel di Yogyakarta. Bagi seorang komponis, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968–1971). Saat itu, Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri.

Baca juga: Tiga Ulama Nusantara yang Meramalkan Kemerdekaan Indonesia

Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas dan bolpoin. Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yang kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yang sangat fenomenal dan sangat terkenal—yang banyak dinyanyikan oleh bangsa Indonesia, bahkan anak-anak pun sangat hafal dan pandai menyanyikannya.

Selain lagu “Hari Merdeka”, lagu “Syukur” juga menjadi karya fenomenal beliau. Lagu ini diciptakan pada tanggal 7 September 1944 setelah menyaksikan banyak warga Semarang—kota kelahirannya—bisa bertahan hidup dengan hanya memakan bekicot.

Baca juga: Pesan Nabi; Indonesia Benderanya Merah Putih

Sekilas Tentang Habib Husein Mutahar
Husein Mutahar, begitu nama latinnya, lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 5 Agustus 1916. Perjalanan pendidikan formalnya dimulai dari ELS (Europese Lagere School atau setara dengan SD Eropa selama 7 tahun), kemudian dilanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs atau setara dengan SMP selama 3 tahun) dan dilanjutkan ke AMS (Algemeen Midelbare School atau setara dengan SMA selama 3 tahun) Jurusan Sastra Timur khususnya Bahasa Melayu, di Yogyakarta.

Kemudian beliau melanjutkan ke Universitas Gadjah Mada dengan mengambil Jurusan Hukum dan Sastra Timur dengan khusus mempelajari Bahasa Jawa Kuno. Namun, perkuliahannya hanya 2 tahun, drop out (DO) karena harus ikut berjuang.

Habib Husein Mutahar terlibat Pramuka sejak awal lembaga kepanduan berdiri. Beliau adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Ia juga dikenal anti Komunis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Habib Husein Mutahar juga menjadi tokoh di dalamnya.

Baca juga: Cinta Tanah Air dalam Kitab Syaikhona Kholil Bangkalan

Dalam kehidupan berorganisasi, beliau pernah ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia “Pandu Rakyat Indonesia”, dari 28-Desember 1945 hingga 20 Mei 1961.

Selain itu, beliau juga ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan Latihan pada tahun 1961-1969. Beliau juga pernah menjabat sebagai Sekjen Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka pada tahun 1973-1978 dan anggota biasa pada tahun 1978-2004.

Baca juga: Dalili-dalil Cinta Tanah Air dari Alquran dan Hadis

Habib Muhammad Husein Mutahar—yang juga mantan Duta Besar Italia ini—kemudian meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 9 Juni 2004 di usianya yang ke-88 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here