KETIKA K.H. Haizul Ma’ali ditanya mengenai wiridan Mbah Moen, maka tanpa basa basi, Mbah Ali langsung menjawab:

“Ya banyak, gitu saja kamu tanyakan,” jawabnya. Tapi tak berselang lama beliau langsung dawuh:

“Mbah Maimoen itu dulu ketika nyantri di Pesantren Lirboyo pernah ditemui Nabi Khidir sekitar jam 11.00 siang seperti ada suara yang memanggil, ternyata suara itu dari kuburan dekat pondok.” Mbah Ali mengisahkan.

Baca juga: Mbah Moen dan Kisah Perjalanannya

“Ternyata, di kuburan itu ada Nabi Khidir, pakaiannya seperti petani, pakai caping,” lanjutnya.

Inti yang disampaikan Nabi Khidir adalah: “Kamu cinta sama saya, saya juga cinta sama kamu, dijamin gusti Allah nantinya,” lanjutnya.

Setelah Nabi Khidir dawuhan, lalu mendoakan Mbah Moen lama sekali dan Mbah Moen akhirnya mengamini, kamudian Nabi Khidir menghilang dan Mbah Moen akhirnya pulang ke pondok.

Baca juga: Menyimak Pesan Indah Mbah Maimun Zubair

Ternyata pertemuan Nabi Khidir dan Mbah Maimoen ini diketahui Kiai Mahrus Ali. Setelah itu, Mbah Moen langsung tampak sebagai sosok santri yang sangat alim. Akhirnya, Mbah Moen mengakui kepada Kiai Mahrus perihal apa yang terjadi padanya dan Nabi Khidir.

Perihal itu, Mbah Moen juga menyowankan pada Mbah Kiai Hamid Pasuruan. Ceritanya, setelah sampai di ‘ndalem’ Kiai Hamid, sebelum matur apa pun, Mbah Kiai Hamid langsung berkata:

“Saya sudah tahu, tadi baru saja saya dikasih kabar Nabi Khidir. Sekarang saya pesan; yang hati hati ya.”

Baca juga:
Doa. Syariat dan Adab
Rahasia Mbah Moen Mendidik Anak dan Santrinya

Cerita ini ditulis oleh al-Faqir Muhammad Abdul Muiz.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here