SEBELUM pulang ke rumah, Fatimah sempat ditemui Kang Naim di kantor pesantren. Di kantor itu Kang Naim menyampaikan niatnya untuk menjadikan halal Fatimah. Kang Naim pun berencana sowan ke Kiai untuk minta restu sekalian melamar santrinya untuknya, Fatimah.

Namun, sebelum itu dilakukan, Fatimah meminta Kang Naim untuk menunggu sampai liburan selesai. Fatimah masih ingin berkonsultasi dengan orang tuanya. Barulah setelah kembali ke pesantren,Fatimah akan memberikan jawabannya.

Kang Naim mengiyakannya, ia pun bersedia menunggu jawaban dari Fatimah hingga waktu liburan pondok selesai.

Fatimah: Bu, aku dilamar.

Ibu: Sama siapa?

Fatimah: Seorang santri, Bu.

Ibu: Terima saja, Nduk.

Fatimah: Loh, kok langsung diterima, Bu?

Ibu: Allah saja yang tidak kasat mata saja dia patuhi dan dicintai. Apalagi hanya kamu seorang, Nduk.

Fatimah: Tapi dia tidak punya gelar, Bu. Dia hanya seorang santri.

Ibu: Seorang master, profesor, sarjana mungkin hanya menguasai satu bidang tertentu, Nduk. Tapi dia yang santri bisa menguasai ilmu beriman, sabar, tawadhu, ngalah, pandai bersyukur dan masih banyak lagi. Seorang master mungkin hanya mengajakmu “bagaimana cara hidup nduk”. Tapi santri akan mengajarimu bagaimana cara mati dan hidup nduk setelah mati.

Fatimah: Bu, tampilannya hanya peci sama sarung lho.

Ibu: Sarung itu cuma bungkus, yang penting isinya, Nduk. Dalamnya sarung itu gerakannya lebih liberal dan demokratis lho, Nduk.

Fatimah: Masak sih, Bu?

Ibu: Loh iya, bapakmu dulu juga santri. Makanya ibumu ini lengket sampai sekarang.

Fatimah: Oalah, Bu, pantes tiap tahun saya punya adik.

Kemudian Fatimah dan ibunya tersenyum. [jashijau]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here