BERIKUT ini kami sajikan percakapan antara mahasiswi anggota HTI yang mengajak santri untuk menjadi bagian dari perjuangan Islam melalui HTI. Bagaimana perckapan mahasiswi dan santri, silakan dibaca dengan baik percakapan berikut.

Mahasiswi: “Ayo gabung Mbak dengan HTI, bersama berjuang untuk Islam.”

Santri: “Mbak ini orang mana?”

Mahasiswi: “Mahasiswi sini, Mbak.”

Santri: “Dulu mondok di mana, Mbak?”

Mahasiswi: “Pendidikan saya normal, Mbak.”

Santri: “Normal? Maksudnya? Ada pendidikan tidak normal, kah?”

Mahasiswi: “Hehehe. Maksudnya dari SD sampai SMA umum, Mbak.”

Santri: “Oh, tapi hafal Alfiyah Ibnu Malik, kan?”

Mahasiswi: “Alfiyah itu apa ya, Mbak?”

Santri: “Kitab Nahwu.”

Mahasiswi: “Nahwu itu bahasa Arab ya, Mbak?”

Santri: “Ilmu tentang gramatikal bahasa Arab, begitu singkatnya. Belajar subjek, predikat, objek, dan lainnya.”

Mahasiswi: “Oh, belum pernah, Mbak.”

Santri: “Oh, masih Jurumiyyah ya?”

Mahasiswi: “Itu apa lagi, Mbak?”

Santri: “Innalillah, gini deh. Hafal Alquran tidak?”

Mahasiswi: “Baru tahsin satu, Mbak. Maklum, baru mulai ngaji semester tiga kemarin.”

Santri: “Astaghfirullah. Terus itu teriak-teriak Khilafah, kenapa?”

Mahasiswi: “Kan bagian dari Islam, Mbak. Harus kita perjuangkan.”

Baca juga: Ibn Khaldun dan Penyebab Runtuhnya Khilafah

Santri: “Sudah pernah baca kitab fikih, seperti Minhaj, I’anah, Fathul Mu’in, atau Fathul Qarib aja deh. Pernah?”

Mahasiswi: “Belum, Mbak. Saya tidak bisa baca kitab kuning.”

Santri: “Lah itu tahu Khilafah dari mana?”

Mahasiswi: “Dari murabbi saya, Mbak.”

Santri: “Hebat, punya murabbi. Ikut thariqah?”

Mahasiswi: “Bukan, Mbak, murabbi liqa’.”

Santri: “Murabbinya belajar dari siapa?”

Mahasiswi: “Tidak tahu juga, Mbak. Tapi biasanya sih ngasih refrensi materi dari situs-situs internet atau video di YouTube.”

Santri: “Kamu ini teriak Khilafah bukan dari kitab, bukan juga dari orang yang jelas sanadnya sampai ke Rasulullah saw. Kamu teriak Khilafah dari mana dasarnya?”

Baca juga:
Kejayaan Islam Bukan Karena Khilafah
Suriah Adalah Pelajaran Berharga Bagi Umat Islam Indonesia

Mahasiswi: “Situs di Google dan video dari murabbi, Mbak.”

Santri: “Astaghfirullah. Pantas.”

Mahasiswi: “Pantas kenapa, Mbak?”

Santri: “Mahasiswi yang baik akan bertindak dan berpikir ilmiah. Mengambil sesuatu dari sumber aslinya. Kalau karya ilmiah saja harus pakai jurnal primer, agama juga begitu.”

Santri pun melanjutkan: “Ambil dari kitab-kitab primer (mu’tabar) yang ditulis oleh ulama-ulama kredibel dan diakui dari zaman ke zaman sejak dahulu. Mempelajari sesuatu itu juga harus kepada ahlinya, ada bukti tertulis dia bersambung sanadnya sampai Rasulullah saw.”

Tidak cukup, si santri masih melanjutkan: “Kalau ilmu agama tidak disandarkan kepada Rasulullah saw—apalagi ambil dari Google dan YouTube—malah bisa jadi santri Syaikh Google al- Internety bin Listriky.”

Mahasiswi: “Tapi anu, Mbak… Anu… Anu…”

Santri: “Masya Allah, belajar dari yang jelas sanadnya dulu, Mbak. Berguru itu ke Kiai bukan ke ke Google.”

Baca juga:
Setelah HTI Bubar, Lahirlah KARIM
Jangan Suriahkan Indonesia

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here