DALAM sebuah seminar di Pesantren Sidogiri, Gus Baha pernah ditanya Santri Madura perihal jihad.

“Gus, ini bagaimana kita mau berperang? Kalau kita diam tidak perang, seolah orang Islam kesannya pengecut tidak berani melawan orang kafir. Tapi kalau kita mau berjihad, saya bisa ditangkap sama Pak Jokowi.” Tanyanya.

Gus Baha menjawabnya dengan bertanya balik: “Kang, perang berani mati di zaman modern ini konteksnya apa? Kalau dulu zaman Rasul, perangnya jelas. Yang dilawan Abu Jahal dan Abu Lahab. Mereka jelas-jelas salah dan Rasul benar.”

“Kalau sekarang ini kan tidak jelas. Potensinya sama. Sama-sama benar dan sama-sama salah. Kamu ini mukminnya abal-abal. Musuhnya jangan mukminnya abal-abal. Yang perang takbir. Yang diperangi jangan takbir. Dalam Islam itu boleh membunuh kalau kita diancam nyawa kita. Artinya kalau tidak membunuh kita akan dibunuh. Lah, ini kita mau perang atas nama apa? Atas nama harga diri?” Tanya Gus Baha.

“Di zaman modern ini hendaknya kita tidak boleh terlalu percaya diri, apalagi mengambil sikap ekstrim. Kalau di zaman Nabi dulu sikap yang harus diambil ya ekstrim. Karena yang diperangi jelas-jelas orang yang mau ngajak perang. Jadi jihad zaman Nabi itu jelas. Nabi pasti benar. Dan lawannya pasti salah. Justru kalau tidak mau ikut perang malah menjadi munafik.”

“Di zaman akhir ini yang berlaku, ra’yunaas shawab yahtamilul khata’, wara’yuka lkhata’ yahtamilus shawab. Pendapat kita benar tapi mungkin salah. Pendapatmu jangan benar tapi mungkin salah. Karena samar-samar maka hukumnya jangan tidak bisa jelas. Untuk itu dalam kehidupan sehari-hari kita pakai hukum sosial yang berlaku. Ada orang baik, ya dibaiki. Kalau ada yang berbuat buruk, ya tak perlu diperangi. Menggerutu seperlunya karena kecewa tidak apa-apa. Tidak perlu perang. Karena zaman Rasul kondisinya berbeda dengan sekarang.”

Baca juga: Tentang Non Muslim Bukan Kafir

“Perang setelah zaman Rasul semuanya itu rumit,” kata Gus Baha.

Perang antar sahabat mengandung potensi kebenaran di antara keduanya. Misalnya perang antara Sayyidina Ali dan Muawiyah. Itu sekelas sahabat Nabi. Bagaimana dengan sekarang? Apa ada yang sekelas sahabat Nabi sehingga percaya diri mengakui paling benar sehingga mengambil jalan ekstrim seperti perang?

Baca juga:
Membenahi Algoritma Dakwah Nahdliyin
Tafsir Ayat “Tidak Paksaan Memeluk Islam”

Catatan: Tulisan ini dirangkum oleh Rizal Mubit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here