KARENA Nabi Muhammad saw merupakan pantulan dan teofani Allah Swt yang paling sempurna di antara seluruh yang telah dan akan menghablur dari hadirat-Nya, maka tidak boleh tidak tiga hal berikut ini mesti dipahami sebagai konsekuensi logis dari keberadaannya.

Pertama, semua partikel yang ada, apa pun yang selain hadirat-Nya, pastilah mengalami proses mengada melalui beliau sebagai pintu paling agung dan paling sakral. Walaupun tentu saja kebanyakan mereka tidak meyakini, apalagi sampai merasakan berlangsungnya proses mengada tersebut.

Kedua, seluruh pengalaman religius dan percikan-percikan spiritualitas yang pernah dirasakan oleh semua umat manusia pastilah merupakan luberan dari samudera rohani beliau yang senantiasa bergelombang menawarkan cinta dan kasih sayang kepada kehidupan. Para rasul, para nabi, para wali, orang-orang beriman: Seluruh sembah sujud yang mereka haturkan kepada hadirat-Nya tak lain merupakan hasil kulakan dari beliau. Baik disadari maupun tidak. Setiap perilaku yang terpuji dan akhlak yang bisa dibanggakan pastilah merupakan pancaran dari hati beliau yang bersih dan cemerlang.

Ketiga, merupakan keniscayaan bagi setiap orang yang berakal dan beriman untuk senantiasa memungut jejak-jejak kehidupan beliau. Bukan hanya untuk ditempelkan di dinding kehidupan mereka sebagai hiasan belaka, akan tetapi murni dijadikan denyut keteladanan yang bisa mengantarkan mereka pada nuansa kehidupan yang secara spiritual sungguh sangat estetis.

Dalam kalimat yang ditorehkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165-1240) diungkapkan: “Janganlah engkau menapakkan kakimu di suatu tempat yang di situ tidak ada tapak kaki Nabi Muhammad waw.”

Artinya adalah bahwa janganlah seseorang melakukan tindakan apa pun yang secara substansial tidak memiliki nilai profetik. Sebab bisa dipastikan bahwa semua perbuatan yang hampa dari cahaya kenabian itu tak lain merupakan destruksi. Bisa hanya untuk dirinya sendiri, bisa juga destruksi itu berdampak buruk terhadap orang lain.

Memungut jejak-jejak kaki Nabi Muhammad saw secara aksiologis dengan penuh tulus, cinta dan kesungguhan dalam pengertiannya yang luas dan mendalam akan menjadikan seseorang mendapatkan dua kenikmatan rohani yang sangat urgen sebagaimana diungkapkan oleh Allah Swt dalam Alquran surat Ali ‘Imran ayat 31, baik untuk kehidupannya di dunia ini maupun untuk kehidupannya di hari-hari keabadian kelak.

Pertama, akan senantiasa mendapatkan curahan cinta Ilahiat dari Allah Swt. Sehingga hubungan dia dengan hadirat-Nya bukan terutama dipertalikan oleh adanya sejumlah “taklif” atau kewajiban agama yang mesti ditunaikannya, akan tetapi murni dipertemukan oleh adanya denyut-denyut cinta yang sedemikian sakral, transenden dan menentramkan. Allah Swt jatuh cinta pada si hamba itu. Demikian pula sebaliknya. Dengan sepenuh kenikmatan yang bertahta di luar segala konsep dan gugusan kata-kata.

Hidup dalam pertalian cinta transendental dengan hadirat-Nya adalah hidup yang sebenar-benarnya. Hidup yang merdeka dari segala derita dan kepedihan. Hidup yang terbebaskan dari segala sangsai dan kesia-siaan. Hidup yang di dalamnya satu hari jauh lebih bermutu ketimbang seribu tahun yang kerontang dari sapaan dan senyuman cinta. Hidup yang secara mutlak distempel oleh Allah Swt sendiri.

Kedua, kehidupan seseorang yang setia memungut jejak-jejak kaki Nabi Pungkasan saw itu akan senantiasa diampuni dosa-dosanya. Yaitu, kekurangan-kekurangan orang itu akan selalu ditutupi oleh kemahasempurnaan sifat-sifat hadirat-Nya. Sehingga secara spiritual dia akan senantiasa ada di hadapan Allah Swt, juga di hadapan orang-orang pilihan-Nya, dengan “penampilan” yang seanggun mungkin. [jashijau]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here