BANYAK ruang tamu kalangan santri nahdliyin yang dihiasi dengan kaligrafi ini: Hadza min fadhli Rabbi (secara harafiah maknanya adalah: Ini semua adalah berkat anugerah Tuhanku).

Rumah Kiai Cholil Bisri (kakak kandung Gus Mus) di Leteh, Rembang, bahkan dihiasi kaligrafi ini di bagian “facade” atau tembok depannya. Begitu kita masuk “ndalem” beliau, di tembok depan rumah, di atas teras, terdapat kaligrafi besar ini: Hadza min fadhli Rabbi, dengan cat warna hijau—hijau NU.

Saya menganggap tulisan ini bukan kaligrafi biasa. Kalimat yang berasal dari sebuah ayat dalam surah al-Naml ini sebetulnya melambangkan pandangan hidup kalangan santri.

Baca juga: Seorang Tabi’in yang Main-main Saat Salat

Seorang antropolog yang hendak memahami “world view” kaum santri, bisa menjadikan kalimat ini sebagai jendela untuk melongok ke dunia batin kelas sosial ini. Gus Dur pernah menyebut mereka ini sebagai masyarakat yang hidup dengan sebuah “sub-kultur”, budaya yang khas dan unik.

Menurut saya, ke-sub kultur-an kaum santri yang berbasis budaya pesantren itu, antara lain, ditandai dengan pandangan hidup yang diungkapkan dalam kaligrafi tersebut.

Kalimat ini, semula, berasal dari ungkapan Nabi Sulaiman. Dia diberikan anugerah yang luar biasa oleh Tuhan: Kerajaan yang agung, kemampuan menaklukkan para binatang, dan kekuasaan yang begitu rupa sehingga makhluk-makhluk gaib pun tunduk kepadanya.

Baca juga: Resolusi Konflik ala Nahwu

Mensyukuri ini semua, Nabi Sulaiman kemudian melontarkan ungkapan yang belakangan menjadi ciri khas ruang tamu kaum santri itu: Hadza min fadli Rabbi.

Kalimat ini, di mata saya, mengungkapkan pengertian yang luar biasa. Seberapa besarpun usaha manusia, pada akhirnya toh usaha itu tidak seluruhnya menentukan hasil akhir. Banyak faktor luar, “externalities”, yang di luar kontrol manusia dan menentukan berhasil tidaknya usaha dia.

Dalam setiap usaha, selalu ada “internalities”, faktor-faktor dalam yang kurang lebih bisa dikontrol oleh seseorang; dan “externalities”, hal-hal luaran yang tak sepenuhnya bisa ia kuasai.

Baca juga: Tak Usah Bersikap Lunak Pada Aktivis-aktivis HTI

Jika usaha tersebut akhirnya berhasil, tak seluruhnya keberhasilan itu berkat usaha orang bersangkutan. Ada campur tangan dari “Atas” dalam keberhasilan tersebut. Karena itulah, setiap keberhasilan yang kita peroleh haruslah dibarengi dengan kesadaran mendalam bahwa: Ada anugerah Tuhan yang tercurah dan membuat usaha kita berhasil. Jangan sok-sokan!

Dengan pengertian ini, manusia akan terhindar dari perasaan arogan. Ungkapan ini melambangkan sikap rendah hati yang semestinya dimiliki oleh setiap orang beriman.

Ungkapan ini bukan sejenis fatalisme, atau menyerah pada nasib secara pasif, tanpa ada usaha, ikhtiar dari pihak kita sebagai manusia. Ungkapan ini justru dan seharusnya melambangkan sikap “aktivisme”, bertindak aktif berdasarkan kemampuan yang ada pada diri kita, seraya dibarengi dengan kesadaran bahwa usaha itu bukanlah determinan, faktor satu-satunya yang menentukan hasil akhir.

Baca juga: Merumuskan Fikih Minoritas, Kenapa Tidak?

Hadza min fadhli Rabbi li yabluwani a’asykuru am akfuru…

Tulisan Gus Ulil ini diunggah di akun Facebooknya pada 13 Agustus 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here