Namanya sangat dikenal di Banyuwangi dan Bali. Namanya Al-Habib Ali bin Umar Bafaqih. Beliau yang mendirikan Pondok Pesantren Syamsul Huda, berlokasi di Kampung Kerobokan, Kelurahan Loloan Barat, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali. Loloan pada umumnya dibagi tiga, Barat, Timur, dan Selatan: antara barat-timur, keduanya dipisah oleh suangai yang bernama Ijogading.

Tentang Sungai Ijogading terdapat cerita rakyat, yaitu bila terjadi banjir besar, terlihat dari kejauhan dua buah cahaya seperti lampu terapung mengikuti arus menuju muara. Dalam cerita lokal, cahaya itu digambarkan sebagai dua ekor ular naga, yang menuju hutan Gunung Sembulungan, di Timur Kota Muncar Banyuwangi, sebuah daerah yang dekat dengan tempat tinggal saya.

Loloan Selatan biasa disebut Mertasari, yang umumnya memeluk kepercayaan Hindu. Sementara Loloan Barat penduduknya banyak yang memeluk agama Islam dan non-Islam. Sedangkan Loloan Timur mayoritas memeluk agama Islam. Semuanya masuk wilayah Kabupaten Jembaran. Di Loloan Timur, bediri beberapa pesantren, dan di antara yang terkenal adalah Pondok Pesantren Manbaul Ulum didirikan K.H. Ahmad Dahlan (dari Semarang) tahun 1935, tetapi setelah gempa tahun 1976 mengalami kemerosotan, dan dibangun kembali setelah itu. Sedangkan di Loloan Barat terdapat pesantren Syamsul Huda, yang didirikan Habib Ali Bafaqih, pada tahun 1953.

Sejarah lama Islam di Loloan, bermula dari kedatangan orang-orang Bugis pada abad ke-15. Etnis lain dari kalangan muslim, baru setelah itu. Menurut sumber-sumber sejarah tentang Loloan, pada tahun 1669, terdapat 4 ulama yang datang ke Loloan dan menyebarkan Islam:

Pertama, Syaikh Shofi Sirojuddin (orang Bugis menyebutnya Oding, sedangkan orang-orang lain menyebutnya Lebai, sehingga disebut Buyut Lebai), dari Betawi berkebangsaan Melayu asal Serawak Malaysia Timur, yang bermukim di Loloan Timur sampai akhir hayatnya. Makamnya dikeramatkan dan diziarahi.

Kedua, Syaikh Ahmad Fauzi, beliau berasal dari Jawa Timur berkebangsaan Aden Yaman, yang salah satu putranya bernama Datu Ibrahim menjadi ulama besar di Banyuwangi, serta dikenal sebagai orang keramat, dan makamnya sering dikunjungi (Datuk Ibrahim). Ketiga, H. Syihabuddin, yang datang dari Buleleng dari suku Bugis menetap di desa Air Kuning. Keempat, Haji Yasin dari Buleleng keturunan Bugis yang sering berdakwah di Loloan Barat.

Setelah mereka ini, datang pula Syarif Abdullah bin Yahya Al Qodri dari Pontianak, yang sejak tahun 1799 diidzinkan oleh Raja Jembrana untuk tetap tinggal dan bermukim di sebelah kiri dan kanan Sungai Ijogading, yang sekarang menjadi Loloan Barat dan Loloan Timur.

Sementara Habib Ali Bafaqih datang ke Loloan sekitar tahun 1920-an. Ketika sudah berhasil mendirikan pondok, muridnya banyak dari Banyuwangi. Ayah saya termasuk orang yang pernah nyantri di pesantren Habib Ali Bafaqih ini. Pak Elek (sebutan kepada adik ayah saya untuk keluarga Osing di daerah saya; sedangkan untuk kakak ayah saya disebut Uwak), yang sekarang tinggal di Malang, sering bercerita, jaman ayah saya nyantri di Bali, ia sering ditugaskan oleh Mbah saya untuk mengirim perbekalan seadanya ke Bali, dengan naik kendaraan, menyebrang dari Banyuwangi ke Bali.

Ketika saya tanya, kenapa harus ke Bali, bukankah di Jawa banyak pesantren. Alasan yang dipakai Pek Elek saya, setidaknya ada dua: karena saat itu Habib Ali memang sangat dikenal di tengah masyarakat; dan keluarga saya, dari ayah saya adalah keluarga Osing. Kakek saya asli Osing dari Logejak, tetapi Mbah perempuan saya (bernama Mbah Solichah), masih punya hubungan kerabat dengan keluarga yang ada di Lateng Banyuwangi. Menurut cerita Pak Elek dan beberapa Uwak saya, Mbah perempuan saya dari leluhur di Lateng, tidak benar-benar Osing.

Habib Ali itu sendiri lahir di Lateng Banyuwangi, 1 Januari 1882. Di Lateng, pada zaman itu terdapat guru yang terkenal, yang merupakan ayah dari Habib Ali, yaitu Habib Umar Bafaqih (1792-1942); dan ada juga Dato Ibrahim yang makamnya keramat di Banyuwangi, merupakan anak dari ulama di Loloan. Keluarga ayah saya, di Sraten, Banyuwangi, sering kedatangan, sebagian keluarga Lateng atau tetangga Lateng. Salah satu nama yang sering disebut ibu saya (yang keturunan Jawa-Kulon, begitu orang-orang Osing menyebut orang Jawa) adalah Yik Usin. Mungkin karena kedekatan dengan sebagian orang Lateng itu, ayah saya kemudian diminta oleh kakek saya dan nenek saya, untuk nyantri ke Bali, kepada Habib Ali, yang merupakan putra Banyuwangi, dari Lateng.

Dalam menuntut ilmu, Habib Ali Bafaqih pernah nyantri di Lateng (Banyuwangi), sebagai tempat beliau lahir dan belajar kepada ayahnya, pernah juga mondok di Pondok Pesantren Bangkalan (Madura, Jatim), lalu pergi ke Mekkah. Di Mekkah ini beliau belajar kepada Syeikh Umar Hamdan, Sayyid Abbas aI-Maliki al-Hasani, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki. Setelah pulang, ke Indonesia, Habib Ali sempat mengajar di Banyuwangi, tetapi kemudian, memilih menjadi pendakwah.

Pada pertengahan tahun 1920-an, Habib Ali pernah berdakwah ke Lombok untuk menyebarkan agama Islam selama beberapa bulan, sebelum kemudian melanjutkan dakwahnya ke Bali. Di Bali pada akhir tahun 1920-an itu, Habib Ali berkunjung ke Desa Kepaon, Kecamatan Denpasar Barat, tetapi kemudian sampai di Jembrana, dan berdakwah di tengah masyarakat, mengajarkan Islam yang sudah ada di Bali, meski pemeluk Islam belum terlalu banyak.

Baru pada tahun 1928, Habib Ali bersama masyarakat mendirikan pengajian kecil bernama Syamsul Huda, di Loloan Barat, Kecamatan Negara. Setelah pengajian ini berkembang, pada 1935 beliau meningkatkannya menjadi pesantren, yang dikenal sampai saat ini. Beliau dikenal ahli dalam berbagai fan ilmu-ilmu pesentran dan tarekat, termasuk ilmu qoro’ah dan kejadukan. Pada sisi yang lain, Habib Ali termasuk tokoh yang mengadopsi perubahan-perubahan, sehingga pesantren ini mengajarkan ilmu-ilmu, seperti bahasa Inggris, silat, dan beberapa keterampilan, seperti menukang dan menjahit.

Beberapa angkatan dari ayah saya nyantri, banyak yang menjadi kiai-kiai langgar di daerah masing-masing. Di Jembrana, sahabat ayah saya, yang benama Hj. Saad, memiliki langgar, dan mengimami salat jamaah, yang rumahnya tidak jauh dari pantai. Demikian juga, salah seorang sahabat ayah saya di Banyuwangi, mengajar ngaji. Ayah saya sendiri, diminta masyarakat untuk memandikan jenazah ketika tetangga-tetangga meninggal; dan sempat minta dibelikan buku khutbah Jumat, ketika beliau pindah ke Lereng Kumitir, bersama para perantau-perantau dari Banyuwangi, sebelum akhirnya wafat dalam usia yang masih muda.

Habib Ali Bafaqih mengajarkan murid-muridnya untuk selalu sabar dan kuat menjalani hidup. Ayah saya sering meneladani kesabaran ini. Habib Ali memang sangat dikenal mengajarkan kesabaran ini, sebagaimana dituturkan oleh anaknya, Habib Salim ketika diwawancarai sebuah media, Nusa Bali, tokoh ini dikenang begini:

“Setipa orang kan pasti mengeluh saat tertimpa musibah. Terkadang ada orang yang iri atau benci kepada kita. Tapi Abah mengajarkan, bagaimana kita tetap harus berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk terhadap kita. Memang sulit begitu, dan saya sendiri jujur, belum bisa sampai mencapai ilmu kesabaran yang diajarkan Abah.”

Habib Ali Bafaqih, juga seorang guru tarekat, dalam tarekat Qadiriyah. Di antaranya, Habib Luthfi menyambung sanad tarekat Qadiriyah kepada Habib Ali Bafaqih ini. Di tengah masyarakat, kiprah Habib Ali Bafaqih dikenal luar biasa dalam dakwah dan membimbing masyarakat, sehingga menjadikan beliau sangat dihormati. Apalagi beliau ini diberi karunia panjang umur dalam membimbing masyarakat, meninggal pada 27 Februari 1999 dalam usia sekitar 117 tahun.

Makam beliau ada di kompleks pesantren Syamsul Huda. Dan, di Bali, makamnya itu temasuk di antara Makam Keramat yang sering diziarahi peziarah, baik dari Bali atau dari luar Bali. Pada haulnya di bulan Februari ini (2019), adalah yang ke-20 tahun. Untuk sampai ke area makam yang ada di Loloan, harus menempuh sekitar 25 km dari Pelabuhan Gilimanuk (yang menyambung dengan Banyuwangi) dan berjarak sekitar 84 km dari Kota Denpasar, Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here