SYAIKHONA K.H. Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan merupakan salah satu dari ulama yang mendidik murid-muridnya dengan cara-cara unik itu. Mbah Hasyim Asy’ari—pendiri Nahdlatul Ulama—adalah salah satunya. Mbah Hasyim hanya bertugas di kandang kuda, namun melalui karomahnya, justru Mbah Hasyim belajar dalam mimpi. Bahkan, belajarnya Mbah Hasyim dalam mimpi setara 120 tahun lama sebagimana dijelaskan dalam tulisan sebelumnya: Karomah Mbah Hasyim Asy’ari.

Berikut, kiai-kiai karismatik yang mendapat didikan dengan cara-cara unik dari Syaikhona Kholil Bangkalan.

Baca juga: Tirakat Kiai Wahid Hasyim; Saleh Ritual

Manab dari Magelang
Dulu, Syaikhonan Kholil mempunyai santri asal Magelang, Manab namanya. Selama liburan—karena termasuk dari golongan yang tak mampu dan tak pernah mendapat kiriman dari orang tuanya—ia bekerja di sawah sekitar pesantren untuk mengumpulkan beberapa ikat padi yang akan ia gunakan sebagai “sangu” (bekal) selama mengaji kepada Syaikhona Kholil.

Sesampainya di Demangan, kebetulan Syaikhona Kholil waktu itu sedang duduk di luar rumahnya, melihat santrinya datang membawa dua karung beras, beliau berkata: “Kebetulan ayam-ayamku masih belum makan.”

Manab lekas memahami keinginan kiainya. Tanpa menunggu lama ia menaburkan beras dua karung itu di kandang ayam-ayam Syaikhona Kholil. Hasil jerih payahnya berbulan-bulan ludes pada waktu itu juga. Sebagai ganti beras itu, Syaikhona Kholil menyuruhnya untuk mengumpulkan daun mengkudu sebagai makanan sehari-harinya.

Santri bernama Manab itu kelak akan menjadi ulama besar di zamannya, mendirikan pesantren yang memiliki ribuan santri hingga saat ini. Ia yang kelak lebih dikenal dengan K.H. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Baca juga: Mengenal Penggubah Salawat Nahdliyah

Muhammadun dari Lasem
Berbeda dengan Manab, ini yang dialami oleh santri bernama Muhammadun. Sehari sebelum santri asal Lasem itu datang ke Bangkalan, Syaikhona Kholil menyuruh murid-muridnya untuk membuat “kurungan” ayam.

Keesokan harinya Syaikhona Kholil menyambut kedatangan Muhammadun lalu memerintahkannya untuk menjebloskan diri ke dalam kurung ayam itu. Muhammadun melaksanakan perintah sang guru tanpa protes sedikit pun.

Kelak, ialah yang akan menjadi salah satu “Jago” tanah Jawa, menjadi kiai alim nan karismatik—yang dikenal dengan Mbah Kiai Maksum Lasem.

Baca juga: Syaikh Mbah Raden Imam Puro Purworejo

Abdul Wahab dari Jombang
Santri asal Jombang bernama Abdul Wahab malah memiliki pengalaman yang seru dan menegangkan. Ketika baru sampai di gerbang pondok Syaikhona Kholil, Abdul Wahab disambut oleh puluhan santri membawa clurit dan pedang yang hendak menyerangnya.

Tentu saja Abdul Wahab lari terbirit-birit. Ternyata Syaikhona Kholil sudah mewanti-wanti para muridnya untuk bersiaga di hari itu. Kata Syaikhona akan ada “Macan” yang hendak memasuki area pondok pesantren. Dan sialnya, santri baru bernama Abdul Wahhab itu yang Syaikhona Kholil tuduh sebagai “Macan” hingga ia menjadi target serbuan para santri.

Keesokan harinya, Abdul Wahab kembali lagi. Kedatangannya pun masih juga disambut dengan clurit dan pedang. Namun, Abdul Wahab belum menyerah. Ia mencoba lagi di malam ketiga dan di malam itu pun Abdul Wahab berhasil memasuki area pondok pesantren. Karena kelelahan ia tertidur di musala pesantren, Syaikhona Kholil lalu lalu datang dan membangunkannya.

Di malam itulah Abdul Wahab resmi diterima menjadi santri Syaikhona Kholil. Di masa depan, ialah yang akan menjadi “Macan NU”. Pengasuh Pesantren Tambak Beras yang kita kenal sebagai Mbah Wahab Chasbullah.

Baca juga: Keutamaan Bercocok Tanam dan Bertani

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here