DINI hari ini tiba-tiba berkobar hasrat dalam diri saya untuk “menggauli” Alfiyyah.

Alfiyyah ini bukan nama perempuan, melainkan sebuah kitab berisi kumpulan seribu bait tentang “Arabic grammar” yang ditulis oleh sarjana besar bernama Imam Ibnu Malik; ia hidup kira-kira satu setengah abad setelah Imam Ghazali (w. 1111).

Supaya “aman”, saya tidak “khalwat” sendirian bersama Alfiyyah, melainkan didampingi oleh kitab lain yang merupakan komentar atas Alfiyyah dan sangat populer di pesantren: yaitu Syarah Ibn ‘Aqil.

Salah satu hal yang menarik dalam bait-bait Alfiyyah, menurut saya, adalah contoh-contoh yang diberikan oleh Imam Ibnu Malik untuk memperjelas kaidah-kaidah gramatik. Selalu ada pesan yang terselip di balik contoh-contoh itu: Ada pesan yang sifatnya moral-etis, ada yang sifatnya sufistik, ada yang sifatnya politik-ideologis.

Di lain kesempatan, insyaallah saya akan menulis beberapa contoh (syawahid) dalam bait-bait Alfiyyah yang memuat pesan-pesan politis-ideologis.

Baca juga: Resolusi Konflik ala Nahwu

Kali ini, saya membaca sebuah contoh menarik yang langsung membuat saya teringat pada jargon kampanye KPK: Berani jujur hebat! Contoh itu saya jumpai dalam bab athf al-nasaq (عطف النسق).

Sebelum bergerak lebih jauh, saya akan berikan penjelasan sederhana tentang apa itu athaf.

Contoh sederhana fenomena gramatik yang disebut athaf ini adalah: “Saya suka musik dangdut, dan pop, dan kasidah, dan keroncong, dan jazz, dan klasik.” Partikel “dan” dalam kalimat itu berfungsi “menghubungkan” (‘athaf) antara kata “pop” dan seterusnya dengan “kata utama” yang terletak di awal, yaitu “dangdut”. Inilah yang dalam ilmu nahwu (Arabic grammar) disebut dengan athaf.

Mari kita baca bait yang menarik perhatian dalam Alfiyyah itu:

تَالٍ بِحَرْفٍ مُتْبِعٍ عَطْفُ النَّسَقْ #
كَاخْصُصْ بِوُدٍّ وَثَنَاءٍ مَنْ صَدَقْ

Bait ini berisi definisi tentang ‘athaf, yakni, sesuatu yang terletak setelah sesuatu yang lain, dan keduanya dihubungkan dengan partikel (huruf) penghubung. Contoh soal dangdut di atas bisa memperjelas definisi ini.

Baca juga: Merumuskan Fikih Minoritas, Kenapa Tidak?

Tetapi contoh yang diberikan oleh pengarang Alfiyyah di dalam bait ini jauh lebih menarik ketimbang contoh dangdut. Imam Ibn Malik tidak pernah memberikan contoh untuk kaidah gramatik apapun dalam kitab ini kecuali ada “maksud” atau “ajaran” di baliknya.

Mari kita cermati contoh athaf dalam bait ini: Ukhsus bi-wuddin wa tsanain man shadaq. Terjemahan bebasnya: “Orang yang jujur perlakukanlah secara khusus dengan cara engkau cintai dan puji.” Bagian yang terakhir ini adalah contoh athaf. Contoh ini langsung mengingatkan saya pada gerakan anti korupsi yang pernah dilancarkan KPK dulu dengan semboyan: Berani jujur hebat!

Ini adalah hari-hari menjelang Pansel Capim KPK akan menyeleksi 10 calon pimpinan KPK untuk diajukan ke parlemen, dan selanjutnya DPR akan memilih lima dari sepuluh calon itu sebagai komisioner definitif KPK untuk periode lima tahun mendatang.

Kita perlu mendukung upaya pansel untuk memilih komisioner yang paling baik, agar perang melawan korupsi terus bertahan momentum-nya di negeri ini. Cara santri untuk mendukung kerja pansel ini adalah dengan menggelorakan gerakan anti-korupsi di pesantren.

Baca juga: Rahasia di Balik Kehebatan Belajar ala Pesantren

Salah satunya, dengan cara menafsir Alfiyyah untuk mendukung gerakan ini. Tafsir atas bait soal athaf di atas adalah salah satu contohnya. Tentu Anda boleh saja berpendapat bahwa ini sama saja dengan “memperkosa” Alfiyyah untuk kampanye korupsi.

Ndak apa-apa.

Tulisan Gus Ulil ini diunngah di akun Facebook-nya pada 23 Agustus 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here