K.H. Muhammad Yasin bin Ya’qub, salah satu dari dua menantu Mbah Kholil Bangkalan—selain K.H. Muntaha—pendiri Pondok Pesantren Kepang. Beliau adalah suami dari Nyai. Hj. Asma, putri Mbah Kholil Bangkalan.

Banyak yang bertanya-tanya; dari sekian banyak murid-murid Mbah Kholil yang ‘keramat-keramat’ itu mengapa Mbah Yasin yang diambil menantu? Padahal namanya kalah populer dibandingkan santri-santri Mbah Kholil lainnya. Setelah ditelusuri dari berbagai cerita, bisa disimpulkan bahwa Mbah Kholil menjadikan beliau menantu karena dua hal.

Pertama, faktor nasab. Kiai Yasin adalah keturunan ke-9 dari Sunan Giri sebagaimana Mbah Kholil yang juga tercatat sebagai keturunan ke-8 dari Sunan Gunung Jati. Kedua, faktor adab. Kiai Yasin dikenal sebagai sosok yang sangat patuh dan takdim kepada Sang Guru. Sifat itu ditunjukkan bahkan setelah Kiai Yasin menjadi menantu dari Mbah Kholil.

Baca juga: Kiai Sahal dan Kesederhanaannya

Kiai Yasin begitu sopan terhadap Nyai Asma, layaknya sikap takdim seorang santri kepada Ning-nya. Sampai akhir hayatnya, Kiai Yasin memanggil istrinya itu dengan panggilan “Nyai”. Uniknya, setiap Kiai Yasin menaiki becak lalu bertemu Nyai Asma di pinggir jalan, beliau akan segera turun dari atas becak sebagai bentuk penghormatan kepada putri kiai-nya itu.

Padahal, Kiai Yasin sudah puluhan tahun menjadi suami Nyai Asma. Mungkin prinsip beliau adalah, “Meski ia adalah istriku, tapi ia tetaplah putri Mbah Kholil, kiaiku. Dan, sampai mati aku tetaplah santri Mbah Kholil.”

Jadi teringat apa yang sering diucapkan Mbah Abdul Karim Lirboyo kepada santri-santrinya sebelum beliau wafat, “Dungakno aku mati diakoni santrine Kiai Kholil”, doakan semoga aku mati diakui sebagai santrinya Kiai Kholil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here