KITA memasuki zaman di mana yang instan menjadi pilihan. Banyak penceramah yang hanya belajar di Google justru digemari. Meraka dianggap representatif untuk menafsirkan ajaran agama. Tak heran jika akhir-akhir ini banyak konten dakwah yang malah membuat gundah keadaan. Ceramah-ceramahnya justru menjadi penyulut emosi kepada orang yang tak sepaham.

Jika dibiarkan, ini bisa berbahaya. Ajaran agama diamputasi nilai-nilainya menjadi sangat sempit sekadar berebut yang paling benar. Padahal tidak demikian, inti dari ajaran agama adalah kemanusiaan, agama menolak kekerasaan, karena agama sendiri hadir untuk menebar cahaya dan kasih sayang bagi seluruh alam.

Nah, menghindari pemahaman yang sempit seperti di atas, menjadi penting belajar di pesantren, belajar ilmu agama yang jelas sumbernya kepada para kiai.

Kenapa belajar di pensantren itu penting? Berikut beberapa yang hanya akan di dapat jika kita mengenyam pendidikan di pesantren.

Sanad Keilmuan
Jika dirunut, sanad keilmuan di pesantren memiliki jalur yang jelas. Dengan arti lain, hal ihwal yang dipelajari di pesantren bisa dipertanggungjawabkan. Belajar di pesantren kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang tengah kita pelajari, karena setiap ilmu yang kita konsumsi sanad keilmuannya sampai kepada Kanjeng Nabi.

Dengan demikian, semua ilmu yang diajarkan di pesantren sudah sesuai dengan ajaran dan tuntunan Kanjeng Nabi. Dan, Insyaallah kelak beliau yang akan bertanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Berpikir Out Of The Box
Dunia pesantren akan menjadi dunia yang asyik dalam mendewasakan cara berpikir. Di pesantren, kita diajarkan untuk tidak berpikir oposisi-biner, sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan.

Belajar di pesantren kita akan diajarkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah. Perbedaan ada bukan untuk dipertentangkan, melainkan disikapi secara arif agar bisa berjalan beriringan. Di pesantren pulalah, kita diajarkan untuk tidak menghakimi atau mudah menyalahkan yang lain.

Tabarrukan
Hanya di pesantren kita akan dikenalkan konsep barokah. Bahkan, konsep ini menjadi pegangan para santri. Sebagaimana sering kita dengar, setinggi apa pun ilmu yang kita raih, jika tidak mendapat barokah kiai, percuma, ilmu kita akan sia-sia.

Di kalangan pesantren, tabarrukan memiliki makna penambahan kebagusan dari Allah SWT, ziyadatul khoir. Barokah sendiri merupakan kekuatan rasa ynag dimiliki oleh kiai dan dipercaya mampu meligitimasi ilmu yang diperoleh santrinya, manfaat atau tidak.

Pentingnya Akhlak
Pegangan santri pada tabarrukan itulah yang kemudian membuat bagaimana akhlak di kalangan santri menjadi puncak dari segala pencariannya. Akhlak yang dimaksud di pesantren bukan sekadar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Misal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak karena yang dilakukan bertentangan dengan kebenaran hatinya.

Ahklah itu melampaui etika. Orang yang berakhlak—baik tindakan, perkataan, pikiran, maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan.

Kesadaran Sosial
Ada kebiasaan sederhana namun memuat pesan moral yang luar biasa, tradisi makan bersama menggunakan talam. Tanpa disadari, dalam kehidupan pesantren, menyimpan jamak pelajaran hidup. Makan bersama itu menjadi bukti bahwa kebersamaan dalam pesantren sangat diutamakan.

Artinya, dunia pesantren tak pernah melihat dari mana asalnya, miskin, kaya, bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, santri.

Lima poin di atas merupakan penempaan santri dalam belajar tentang agama. Pesantren tidak pernah mengenalkan proses yang instan. Di pesantren, memahami ajaran agama tidak semudah merebus mie instan. Sekian. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here